Bertahan Dimasa Pandemi, Marselinus Tetap Eksis Tekuni Usaha Batu Bata

Dasi/BERITA SAMPIT - Marselinus Saka

NUSA TENGGARA TIMUR – Di tengah pandemi Covid-19, dampak ekonomi sangat terasa. Berlbagai sektor usaha masyarakat juga mengalami penurunan yang signifikan. Kendati demikian hal berbeda malah sebaliknya dirasakan Marselinus Saka.

Pria kelahiran 1974 ini tetap eksis di usah cetak batu bata yang sudah 10 tahun dirinya rintis. Di tengah pukulan Covid-19 dan Zona di wilayah kerjanya tersebut. Marselinus tetap semangat dan usaha yang ia tekuni tidak mengalami kendala yang berarti.

Tinggal di Desa Tukuneno, kecamatan Tasifeto Barat (TasBar) kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak membuat bapak beranak 3 ini sepi pelanggan, hal bukan tanpa sebab, pelayanan yang prima terus ia berikan kepada para pelangganya.

Ketika dijumpai dikediamnya, Marselinus dengan ramah menyambut kedatangan para tamu baik pelanggan yang ingin memesan batu bata atau hanya warga yang ingin berbincang-bincang saja.

BACA JUGA:   Kemenag: Tuntunan Pengeras Suara Untuk Azan Masih Relevan

Ia, menceritakan dengan penulis, usaha batu bata yang telah lama dirinya geluti tersebut bukan tanpa kendala, proses pembuatanya pun membutuhkan waktu yang cukup lama ditambah kondisi alam yang terkadang tidak mendukung membuat proses pembuatan menjadi agak lama.

“Dalam waktu kurang lebih 3 hari batu yang dicetak sudah kering, tetapi ketika menghadapi musim hujan, memakan waktu lama proses pengeringan sampai dua minggu,” kata Marselinus Saka. Rabu 05 Mei 2021.

Ia menjelaskan proses pembuatan dari awal tanah, menurutnya bahan dasar bata yang terdiri dari tanah terlebih dahulu diaduk dengan campuran dedak agar lebih kuat. Kemudian bahan tersebut dimasukan dalam alat cetakmenggunakan cetakan tradisional. Selanjut di jemur hingga kering dan disusun kembali untuk dibuat oven sekaligus proses pembakaran menjadi batu bata yang kuat dengan menggunakan kayu.

BACA JUGA:   Presiden Joko Widodo meresmikan Sirkuit Mandalika Lombok

“Sekali bakar batu yang disusun mencapai 23.000 buah, dan proses pembakaran hanya butuh satu malam, Selanjutnya menunggu beberapa minggu kedepan untuk dingin dan sekaligus sudah dapat dibongkar dan disusun di tempat lain agar dijual,” ceritanya.

Menyangkut harga, Marselinus mengaku sesuai kesepakatan, dijual 400 sampai 500 rupiah per batu demikian tergantung permintaan pembeli, “mau terima di tempat atau mengambil langsung dari tempatnya,” katanya.

Disinggung mengenai penjualan, Marselinus menjelaskan selain kontraktor dari kota, juga pemerintah kampung dan masyarakat yang hendak membuat bangunan. Karena dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan maupun kegiatan fisik lain.

“Walaupun dimasa pandemi kami tetap bertahan menekuni usaha cetak batu bata karena sistem kerjanya tidak berkumpul dengan banyak orang sehingga tidak berpengaruh dengan pekerjaan ini,” harapnya.

(Dasi/beritasampit.co.id)