Dampak Larangan Mudik dan Penyekatan Pemicu Inflasi Di Kalteng

Kepala BPS Kalteng, Eko Marsoro, saat memaparkan perkembangan IHK selama bulan Mei 2021 di provinsi setempat, Palangka Raya, Rabu 2 Juni 20201.//Ist-Antara/BPS Kalteng;

PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah (Kalteng), melihat adanya kebijakan larangan mudik pada saat lebaran tahun 2021dan penyekatan di seluruh perbatasan provinsi ini berdampak atau jadi pemicu terjadinya inflasi pada Mei 2021 di wilayah setempat.

Larangan mudik membuat para perantau tetap tinggal di provinsi ini dan berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap komoditas bahan makanan dan minuman, kata Kepala BPS Kalteng, Eko Marsoro.

Dikatakan, gejolak harga bahan pokok di provinsi ini sebelum dan sesudah lebaran juga dipengaruhi oleh distribusi barang yang mulai diperketat oleh pemerintah. Di mana secara resmi dilakukan penyekatan keluar masuk orang di sejumlah wilayah telah dimulai pada 6 Mei 2021.

“Permintaan meningkat itu pun membuat stok yang disiapkan untuk Lebaran jadi kurang. Itu yang menyebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas, sekaligus memberi andil terjadinya inflasi,” katanya.

BACA JUGA:   MES Kalteng Kerjasama Dengan BEI Kalteng, Ini Programnya?

Eko mengatakan, penyekatan itu juga mempengaruhi distribusi barang di Kalteng. Sebab, berbagai komoditas yang dibutuhkan masyarakat sebagian besar masih tergantung dengan distribusi barang dari provinsi lain, khususnya Kalimantan Selatan.

“Jadi, larangan mudik dan penyekatan itu benar-benar memberi pengaruh atau andil yang cukup besar terhadap terjadinya inflasi di provinsi ini,” ucapnya.

Berdasarkan data BPS, indek harga konsumen (IHK) di Provinsi Kalteng pada Mei 2021, terjadi inflasi 0,43 persen, dengan laju inflasi tahun kalender 0,98 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun 1,50 persen.

Inflasi di Kalteng merupakan gabungan dari dua kota yang menjadi acuan perhitungan IHK, yakni Palangka Raya dan Sampit. Di mana di Kota Palangka Raya mengalami inflasi 0,45 persen dan Sampit terjadi inflasi 0,40 persen.

BACA JUGA:   Basarnas : Lokasi Pencarian Tujuh Korban Kapal Terbalik Diperluas

Inflasi Palangka Raya di dipengaruhi oleh peningkatan indeks harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau 1,00 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,88 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki 0,52 persen.

Sementara inflasi di Sampit 0,40 persen dipengaruhi meningkatnya indeks harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau 0,85 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,50 dan kelompok pakaian dan alas kaki 0,34 persen.

“Komoditas terbesar penyumbang inflasi di Palangka Raya adalah Daging Ayam Ras, Angkutan Udara, Semangka, Emas Perhiasan dan Kacang Panjang. Sedangkan di Sampit yakni Daging Ayam Ras, Semangka, Minyak Goreng, Tomat dan Mangga,” Sebut Kepala BPS Kalteng.

(BS-65/beritasampit.co.id)