Bersatu Membangun Kalimantan Tengah

Bambang M Permadi

Oleh : Bambang M Permadi

Presiden Joko Widodo, Selasa 25 Mei  2021 lalu di Istana Negara melantik dan mengambil sumpah Sugianto Sabran  dan Edy Pratowo masing-masing sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah periode 2021 – 2024.

Momen bersejarah itu melegakan semua pihak, terutama masyarakat Kalimantan Tengah . Ditetapkannya pemimpin daerah definitif memberikan makna positif bagi kepastian regulasi kebijakan, hukum dan politik di Bumi Tambun Bungai.

Sebagai petahana yang terpilih untuk kedua kalinya dan orang nomor satu di Kalimantan Tengah Sugianto Sabran cukup menguasai permasalahan daerah yang dipimpinnya. Demikian pula Edy Pratowo, Wakil Gubernur yang sebelumnya cukup berhasil memimpin Kabupaten  Pulang Pisau selama 2 periode yaitu periode 2013-2018 dan 2018-2023.

Dibawah kepemimpinan Edy Pratowo  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulang Pisau atas harga berlaku setiap tahun selalu bergerak positif. Pada tahun 2020 mencapai Rp.5.588,76 miliar.

Kebijakan setrategis pembangunan daerah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah dicapai dengan baik. Memang tidak ada nilai sempurna, karena output sebuah kebijakan juga berkorelasi dengan kondisi kawasan lain dan fenomena global. Seperti menurunnya aktifitas ekonomi akibat gempuran pandemi Covid-19 di berbagai belahan dunia yang sulit dihindari.

Hasil Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduk di Provinsi Kalimantan Tengah adalah sebanyak 2.669.969 jiwa, yang terdiri atas 1.385.705 laki-laki dan 1.284.264 perempuan. Kabupaten Kotawaringin Timur, Kapuas dan Kota Palangka Raya adalah tiga kabupaten/kota dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, yang masing-masing berjumlah 428.895 jiwa, 410.446 jiwa, dan 293.457 jiwa.

Kabupaten Sukamara merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kalimantan Tengah yakni sebanyak 63.464 jiwa. Sementara rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahun 2010-2020 adalah sebesar 1,84 persen per tahun. Laju pertumbuhan ini meningkat dibandingkan periode 2000-2010 yang sebesar 1,79 persen.

Jumlah penduduk yang terus bertambah setiap tahun  di Kalimantan Tengah cepat atau lambat akan membawa persoalan tersendiri. Seperti meningkatnya jumlah pengangguran, kemiskinan, ketersediaan lahan dan lingkungan. Pembangunan infrastruktur yang semakin membaik dan berkesinambungan dilaksanakan pemerintah ditengarai turut berkontribusi meningkatkan migrasi penduduk dari daerah lain ke Kalimantan Tengah.

BACA JUGA:   Perlukah Pemukiman Warga di Zona Banjir Aruta Direlokasi ?

Pada perspektif lain, pertambahan jumlah penduduk juga dapat dimaknai sebagai indikator membaiknya umur harapan hidup. Pada tahun 2020, umur harapan hidup di Kalimantan Tengah tercatat 69,74 tahun, artinya bayi yang lahir tahun 2020 memiliki peluang hidup hingga 69,74 tahun.

Ketenagakerjaan

Masalah lapangan kerja dan ketenagakerjaan menjadi persoalan penting  yang dihadapi hampir  seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah yang dipimpin Sugianto Sabran-Edy Pratowo . Angkatan kerja terus bertambah setiap tahun, sementara lapangan kerja yang dibutuhkan masih terbatas.

Menurut data BPS, penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) pada Februari 2021 sebanyak 2.036,08 ribu orang, bertambah 35,4 ribu orang dibanding Februari 2020 . Kondisi ini meningkat sebanyak 16,56 ribu orang dari keadaan Agustus 2020. Penduduk usia kerja sebagian besar merupakan angkatan kerja yakni sebanyak 1.413,78 ribu orang (69,44 persen), terdiri dari 1.353,63 ribu orang bekerja dan 60,15 ribu orang pengangguran.

Sejalan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat menjadi 69,44 persen, bertambah 1,04 persen poin dibandingkan Agustus 2020. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,25 persen, mengalami penurunan 0,33 persen poin dari keadaan Agustus 2020.

Bertambahnya jumlah penduduk setiap tahun yang diikuti dengan bertambahnya angkatan kerja merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Pengangguran, akibat tidak terserapnya angkatan kerja dalam berbagai lapangan pekerjaan  akan  menimbulkan  masalah sosial akibat menurunnya derajat perekonomian masyarakat.

Menurut Nelson dan Leibstein (dikutip dari Sadono Sukirno, 2000) terdapat pengaruh langsung antara pertambahan penduduk terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Nelson dan Leibstein menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perbaikan yang berarti dan dalam jangka panjang akan mengalami penurunan kesejahteraan serta meningkatkan jumlah penduduk miskin.

Pertumbuhan investasi di Kalimantan Tengah yang bergerak dinamis sejatinya dapat menjadi solusi mengatasi pengangguran. Salah satunya investasi perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

BACA JUGA:   Agar Bantuan Alsintan Ada Buktinya, di Kecamatan Perlu Dibuka Demplot Pertanian Lokal

Persoalannya, saat ini tidak seluruh perusahaan mempekerjakan tenaga kerja lokal. Terutama untuk jenis pekerjaan di lapangan, seperti tenaga panen tandan kelapa sawit, pemupukan, pembersih gulma dan lain-lain. Tidak diketahui, apakah selama ini pekerja lokal tidak berminat dengan jenis pekerjaan tersebut atau informasi lowongannya terbatas. Saat ini para pekerja sawit lebih banyak berasal dari beberapa daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelatihan keterampilan spesifik

Masuknya investasi di Kalimantan Tengah memberikan stimulus pada percepatan pembangunan daerah. Investasi akan mendorong optimalisasi pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melibatkan banyak sumber daya. Faktor tambah lain, investasi yang prospektif akan memberikan konstribusi dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan berkembangnya wilayah menjadi sentra-sentra produksi.

Pertumbuhan investasi di Kalimantan Tengah idealnya harus dapat turut menjawab persoalan ketenagakerjaan di daerah ini. Angkatan kerja lokal yang selama ini menganggur dan ingin bekerja tidak hanya menjadi penonton karena alasan klasik tidak memenuhi persyaratan teknis dan administratif. Angkatan kerja lokal harus diakomodir untuk menjadi bagian dari pertumbuhan industri.

Semua pihak harus turut terlibat membangun Kalimantan Tengah sesuai kapasitasnya. Seperti kalangan dunia usaha, pendidikan dan kegiatan profesional lainnya. Diperlukan program pelatihan dan keterampilan angkatan kerja di kabupaten/kota.

Pelatihan keterampilan harus bersifat spesifik disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan perusahaan, seperti  administrasi, operator alat berat dan teknisi mesin produksi. Sehingga calon pekerja memiliki posisi tawar terkait besaran gaji  yang wajib diterima  sesuai ketentuan.

Kepemimpinan Sugianto Sabran – Edy Pratowo disambut optimis. Sejumlah indikator keberhasilan yang telah dicapai selama ini diharapkan semakin meningkat, selaras dengan program kerja yang disampaikan saat kampanye Pilkada tahun lalu. Sehingga dapat memberikan harapan baru bagi 2,6 juta penduduk Kalimantan Tengah. Semoga.

*Penulis adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Pusat Statistik Provinsi Kalteng yang berdomisili di Kota Palangka Raya.