Bersiap Hadapi Lonjakan Gelombang Kedua Covid-19 (bagian 2)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers setibanya vaksin COVID-19 AstraZeneca,di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin 26 April 2021.//Ist-ANTARA/Kemenkominfo/aa. (Handout Kemenkominfo)

Peringatan Sudah Berulang

Peringatan akan ada tsunami penyebaran Covid-19 jika warga tetap melakukan mudik dan silaturahim tatap muka sudah banyak diberitakan dan berulang-ulang, tetapi pemaksaan mudik masih terus terjadi. Bahkan banyak tempat wisata yang tetap diserbu pengunjung saat libur Lebaran dengan mengabaikan protokol kesehatan.

Peringatan untuk melakukan silaturahim virtual pun banyak diabaikan, dan kelompok-kelompok kecil telah melakukan silaturahim hampir di setiap perkampungan.

Memasuki bulan syawal yang menjadi momentum menggelar pernikahan bag umat Islam karena dianggap sebagai bulan baik juga menjadi pendorong penyebaran lebih virus ini lebih cepat. Banyak yang masih abai menerapkan protokol kesehatan selama gelaran terutama sangat tidak mungkin melakukan jaga jarak optimal selama sesi pengambilan gambar.

BACA JUGA:   Virus Corona Masih Ada, Begini Cara Menggunakan Masker Dobel yang Benar

Masyarakat tidak menyadari bahwa varian baru yang lebih menular sudah hadir di tengah-tengah mereka apalagi dibawa tamu-tamu yang termasuk orang tanpa gejala.

Kabupaten Garut menjadi contoh betapa meroketnya sebaran virus corona di sejumlah perkampungan dan itu diakui Bupati Garut Rudy Gunawan.

Menurut dia lonjakan kasus penularan wabah COVID-19 yang mencapai 453 orang dalam satu hari, salah satunya disebabkan acara pesta pernikahan yang tidak dapat dikendalikan dan masyarakat sulit menegakkan protokol kesehatan selama acara itu.

BACA JUGA:   Seluruh Siswa MTs di Ciamis Yang Hanyut Sudah Ditemukan, Sebelas Tewas

Saat ini gelombang tsunamipun mulai bergerak dari sejumlah daerah mulai, Kudus, Bangkalan, Semarang, Temanggung, Yogyakarta, Garut dan Jakarta termasuk Jabodetabek. Bukan tidak mungkin tanpa ketaatan untuk tetap di rumah, virus yang tak terlihat mata itu akan menyebar meluas ke seluruh Jawa.

Wilayah Jabodetabek dipastikan akan menjadi sentra penularan karena sebagian besar penduduk di Jawa mempunyai ikatan keluarga dengan penduduk Jabodetabek, artinya pergerakan silaturahim keluarga sangat dimungkinkan terus terjadi saat pandemi ini. (bersambung).

(Sumber : Antara)