Bersiap Hadapi Lonjakan Gelombang Kedua Covid-19 (bagian 4)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers setibanya vaksin COVID-19 AstraZeneca,di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin 26 April 2021.//Ist-ANTARA/Kemenkominfo/aa. (Handout Kemenkominfo)

Varian Baru

Kementerian Kesehatan terus mengencarkan pemeriksaan varian baru corona dan melaporkan hingga 13 Juni 2021, dari total 1.989 sekuens yang diperiksa, telah dideteksi 145 sekuens Vatiant of Concern (VoC) yang diyakini menular lebih cepat serta memperparah pasien saat jatuh sakit.

Sebanyak 36 kasus terdeteksi sebagai B117 (Alfa), lima kasus B1351 (Delta) dan 104 kasus B1617.2 (Delta) yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Selatan, Riau dan Kepulauan Riau.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi varian virus Covid-19, yaitu B1617.2 dari India banyak ditemukan di Jakarta, Kudus (Jawa Tengah) dan Bangkalan (Jawa Timur).

BACA JUGA:   Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1442 H Jatuh Pada Selasa 20 Juli 2021

Keberadaan virus baru di Indonesia juga mengancam program herd imunity karena otoritas kesehatan masyarakat di Inggris melaporkan varian B1617.2 (Delta) ternyata berpengaruh menurunkan efektivitas vaksin dibandingkan varian B117 (Alfa) sebesar15 hingga 20 persen.

Memang yang menjadi perbandingan adalah varian Alfa yang tidak ada di Indonesia, namun yang jelas varian Delta mempunyai kemampuan lebih kuat untuk menginfeksi pada orang yang sudah mendapat vaksin.

Salah satu kelemahan di Indonesia adalah identifikasi varian baru memerlukan waktu yang cukup lama. Pemerintah sudah selayaknya mengadakan peralatan yang mampu menganalisa varian Delta lebih cepat sehingga pelacakan kontak erat pada varian baru lebih porsinya lebih banyak dibanding varian lain. Ini tidak lain karena kemampuan penyebaran yang lebih meluas.

BACA JUGA:   Kalsel Siap Sambut Peserta Pelayaran Muhibah Budaya dan Jalur Rempah

Menurut Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama, otoritas kesehatan di Inggris telah memiliki alat yang mampu mendeteksi varian Delta hanya dalam waktu 48 jam.

Alat itu tentu wajib dimiliki Indonesia dan menjadi tulang punggung pengendalian varian baru, selain upaya pengendalian lainnya seperti pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro.

Sejumlah daerah juga menerapkan istilah mikro lockdown untuk menutup kampung atau RW yang menjadi pusat penularan. Saat ini perlukah lockdown secara lebih luas diberlakukan ? (bersambung).

(Sumber : Antara)