Usir Covid-19, Semua Desa di Lamandau Lakukan Ritual Tula’ Bala

ANDRE/BERITA SAMPIT : Bupati Lamandau H Hendra Lesmana saat sedang menghanyutkan lanting (rakit) di sungai Lamandau acara ritual Tula' bala, di Kelurahan Tapin Bini

NANGA BULIK – Penanggulangan wabah Covid-19 di Kabupaten Lamandau terus dilakukan. Dari penerapan protokol kesehatan hingga dengan cara kultural yakni ritual Tula’ Bala (Tolak Balak) atau balalayah.

Acara ini sesuai dengan kepercayaan dan kearifan lokal masyarakat Dayak Tomun. Kegiatan Doa istighosah dan ritual tula’ bala dilaksanakan secara serentak di seluruh desa dan kelurahan, Rabu 7 Juli 2021.

Ritual tersebut bertujuan untuk mengusir segala bala (Musibah) yang terjadi pada seluruh Indonesia, ritual itupun dilakukan oleh para damang dan tokoh adat serta diikuti oleh organisasi masyarakat adat setempat.

Dalam ritual tersebut juga mendirikan pahobang laman serta ritual melarung atau menghanyut lanting (rakit) di sungai Lamandau.

BACA JUGA:   Menangis Dituntut 6 Tahun Bui, Terdakwa Kasus Narkotika Ini Minta Keringanan

“Serentak kita melaksanakan Do’a Istighosah serta ritual adat dayak untuk tula’ bala. Seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 di Kabupaten Lamandau, tentu ikhtiar kita lakukan dengan doa dan istighosah serta ritual tula’ bala atau balalayah sesuai budaya suku Dayak Tomun,” kata Bupati Lamandau, Hendra Lesmana, juga sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Lamandau.

Pantangan ritual ini adalah warga tidak boleh bebas bergerak keluar rumah. Bahkan selama kegiatan berlangsung, tidak ada 1 orang pun yang boleh berkunjung kerumah tetangga.

“Semiga melalui kegiatan ini penerapan PPKM mikro dapat kita laksanakan dengan baik, karena dalam ritual ini juga diikuti pantang pamali yang salah satunya ada larangan mengunjungi saudara atau tetangga selam satu hari yakni besok (Kamis, 8 Juli 2021),” jelasnya.

BACA JUGA:   Kejari Lamandau Gelar Vaksinasi Massal Tahap Kedua

Bupati meminta kepada masyarakat agar mengerti ini sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dan juga meminta kepada masyarakat agar menahan diri untuk tidak berpergian kemana-mana.

“Dengan melalui adat dan budaya inilah supaya masyarakat bisa mengerti, bahwa kita tahu wabah Covid yang sedang meningkat bisa diminimalisir melalui adat dan budaya,”

Hendra berharap agar para pemangku adat juga bisa mensosialisasikan dengan para warga, mungkin upaya ini perlu aksensi dan waktu untuk membiasakan diri, agar warga menghindari aktivitas Interaksi untuk sementara.

(Andre/beritasampit.co.id)