Polisi Bantah Beri Perlakuan Khusus Terhadap Kasus Penyalahangunaan Narkoba Nia-Ardi

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Haryadi dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Pusat Kemayoran, Sabtu 10 Juli 2021.//Ist-ANTARA/handout-Polres Metro Jakarta Pusat;

JAKARTA – Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, membantah telah memberi perlakuan khusus terhadap publik figur Nia Ramadhani (31) dan Ardiansyah Bakrie (42) sebagai tersangka kasus penyalahgunaan narkoba.

Hengki pun membeberkan alasan pasangan suami istri tersebut tidak dihadirkan dan ditampilkan kepada media dalam rilis pertama, Kamis 8 Juli 2021, usai keduanya ditetapkan sebagai tersangka.

“Kami perlu luruskan bahwa waktu itu disebut ada perlakuan yang berbeda terhadap tersangka ini. Saat rilis pertama, saat itu tersangka sedang dibawa untuk pemeriksaan rambut dan darah, karena kasus ini yang menjadi sorotan publik,” kata Hengki dalam konferensi pers di Polres Metro Jakarta Pusat Kemayoran, Sabtu 10 Juli 2021.

Hengki menjelaskan, bahwa saat rilis narkoba pertama pada Kamis 8 Juli 2021 tersangka masih melakukan pemeriksaan laboratorium dengan sampel rambut dan darah untuk memastikan kandungan zat metamfetamin dalam sabu yang dikonsumsi Nia dan Ardi.

BACA JUGA:   Beredarnya Kabar Harun Masiku Berada di Indonesia, Ini Tanggapan KPK

Sebelumnya, polisi juga telah melakukan pemeriksaan urine dan hasilnya ketiga tersangka, termasuk supir berinisial ZN (43) positif mengandung metamfetamin.

Jajaran Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat pun masih melakukan penyelidikan lebih lanjut selama empat hari, mulai dari penggeledahan, pemeriksaan barang bukti dan ketiga tersangka.

Pemeriksaan tersebut untuk mengetahui bahwa ada atau tidaknya potensi dan kemungkinan ketiga tersangka memiliki, menyimpan, menguasai, bahkan mengedarkan barang haram tersebut kepada orang lain.

“Selama empat hari ini kami adakan penyelidikan lebih mendalam lagi terkait perkara ini. Kami adakan penggeledahan pemeriksaan bukti-bukti digital, data IT, kemudian pemeriksaan terhadap tiga orang tersangka,” kata Hengki.

BACA JUGA:   Upaya Penyelundupan Ribuan Burung dari Kotawaringin Barat ke Jawa Digagalkan Karantina Palangka Raya

Penyidikan dan pemeriksaan terhadap ketiga tersangka pun dirasa cukup. Ketiganya dijatuhkan pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan sanksi pidana maksimal empat tahun penjara.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan ketiga tersangka sejak Rabu 7 Juli 2021 dengan barang bukti satu klip sabu seberat 0,78 gram dan 1 bong alat hisap sabu.

“Oleh karenanya, selama empat hari ini penyidikan sementara kami anggap cukup dan konstruksi pasalnya adalah pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang pengguna narkoba,” kata Hengki.

(Sumber : Antara)