Angkat Permainan Tradisional dan Budaya Membaca di Festival Anak Nusantara 2021

Ilustrasi - ekspresi anak-anak di Dusun Kuri Lompo, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ikut peringatan Hari Anak-Anak Nasional pada Jumat 23 Juli 2021.//Ist-Antara Foto /handout-Humas HPPMI;

MAKASSAR – Festival Anak Nusantara (FAN) 2021 mengangkat permainan tradisional dan budaya membaca melalui Lapak Baca di Dusun Kuri Lompo, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Panitia FAN 2021, Fitri Amalia, mengatakan, kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari sejak Kamis 22 Juli 2021 dan puncaknya pada Sabtu 24 Juli 2021 di lokasi yang sama.

“Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli diperingati oleh Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Maros, Komisariat Kecamatan Marusu, dengan menyelenggarakan Festival Anak Nusantara (FAN) 2021,” kata Fitri Amalia, di Makassar, dikutip dari Antara, Jumat 23 Juli 2021.

BACA JUGA:   Tingkatkan Pelayanan, BPJS Kesehatan Luncurkan Layanan Care Center 165

Pada kegiatan yang merupakan rangkaian peringatan Hari Anak-Anak Nasional ini, katanya, digelar sejumlah kegiatan berupa lomba permainan tradisional anak, seperti lomba lari karung, lomba jaga gawang, dan lainnya.

Menurut Fitri, hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya tradisional terhadap generasi post millenial dalam hal ini anak-anak.

Selain itu. kegiatan ini bertujuan mengedukasi anak-anak agar berpola hidup sehat dengan tetap memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan selama beraktivitas di luar.

Haris, salah seorang anak yang mengikuti kegiatan FAN 2021 ini mengaku bersyukur masih bisa ikut merayakan Hari Anak-anak Nasional dengan cara sederhana namun penuh makna, karena bisa mengangkat kembali nilai-nilai budaya yang terancam punah.

BACA JUGA:   Cegah Terjadinya Arus Pendek Saat Banjir, PLN Imbau Masyarakat Lakukan Pengamanan Kelistrikan

“Apalagi saat ini masih dalam kondisi pandemi COVID-19, sehingga kami harus belajar dan bermain dari rumah ,” katanya.

Belum lagi karena dampak perkembangan teknologi, kata dia, anak-anak lebih cenderung menghabiskan waktu ikut permainan online (daring) yang tidak membuat badan bergerak dibandingkan bermain ala anak-anak pada era 1990-an yang interaktif dan membangun kerja sama tim dengan teman bermain.

(BS-65/beritasampit.co.id)