Undang Narasumber Terkait, SKB Kotim Susun Kurikulum Operasional Kesetaraan

LAPORAN : ARIFIN/BERITA SAMPIT - Ketua SKB Kotim saat memberikan laporan tentang tujuan diselenggarakan kegiatan mengenai implementasi dan adaptasi K13 pendidikan kesetaraan tahap I penyusunan kurikulum operasional.

SAMPIT – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), menggelar kegiatan mengenai implementasi dan adaptasi Kurikulum 2013 (K13) pendidikan kesetaraan tahap I. Tujuannya, melakukan penyusunan kurikulum operasional namun menyesuaikan dengan kebijakan daerah.

Terselenggaranya kegiatan itu, adanya kerja sama antara SKB Kotim dengan Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus pada Kemendikbudristek Republik Indonesia. Sedangkan kegiatan diadakan selama dua hari, mulai 21-22 Agustus 2021 di salah satu hotel di Kota Sampit.

Agar penyusunan kurikulum operasional itu terarah dengan baik, pihak SKB Kotim mengundang berbagai narasumber terkait seperti, Dinas Pendidikan Kotim, Bappedalitbang Kotim, Komisi III DPRD Kotim, Kamar Dagang Industri (Kadin) Kotim, Dinas Pertanian Kotim, dan Dinas UMKM dan Koperasi Kotim.

BACA JUGA:   Mediasi Keluarga Korban Dugaan Penganiayaan dan PT KIU Berlangsung Alot

“Melalui hasil paparan dari para narasumber itu akan dipilah dan dipilih, kemudian disusun kembali dan akan dijadikan modul pembelajaran yang nantinya akan digunakan untuk bahan ajar di pendidikan non formal,” ucap Ketua SKB Kotim Arief, S.Pd usai pembukaan kegiatan, Sabtu 21 Agustus 2021.

Ada beberapa paparan kebijakan yang telah disampaikan para narasumber misalnya, Kepala Dinas Pendidikan Kotim Suparmadi mengenai pendidikan sudah merata hingga ke pelosok desa.

BACA JUGA:   Fraksi PDI-P Kotim Berikan Catatan Terkait Tiga Ranperda

Sedangkan dari anggota DPRD Kotim Riskon Fabiansyah Komisi III yang menangani salah satu bidang di pendidikan menyampaikan, tupoksi DPRD Kotim dan mengawal kebijakan kepala daerah serta menetapkan anggaran.

Penyelesaian penyusunan kurikulum operasional itu, sambung Arief, prosesnya cukup panjang dan harus matang. Sebab, kata dia, hasilnya nanti akan digunakan untuk modul pembelajaran di pendidikan kesetaraan. (ifin/beritasampit.co.id).