Pemkab Kotim Akan Merelokasi Puskesmas Yang Sering Kebanjiran

Puskesmas Tumbang Penyahuan Kecamatan Bukit Santuai terendam banjir parah, Selasa 24 Agustus 2021.//Ist-ANTARA/handout_Kecamatan Bukit Santuai;

SAMPIT – Agar pelayanan kesehatan tidak lagi terganggu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim), berencana merelokasi pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang sering terendam banjir. Salah satunya Puskesmas yang berada di Tumbang Penyahuan Kecamatan Bukit Santui yang hingga saat ini hampir seluruh bangunannya terdendam banjir.

Diketahui bersama, saat ini banjir masih terjadi di sejumlah desa di empat kecamatan wilayah utara yakni Parenggean, Bukit Santuai, Antang Kalang dan Telaga Antang. Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga merendam sejumlah fasilitas publik, termasuk puskesmas.

Banjir seperti ini sudah sering terjadi saat musim hujan dengan kondisi yang semakin parah. Puskesmas pun tak luput dari banjir, membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi terganggu.

Untuk itulah pemerintah daerah berencana merelokasi puskesmas ke tempat yang lebih tinggi agar terhindar dari banjir saat musim hujan dan sungai meluap.

“Puskesmas Tumbang Penyahuan di Kecamatan Bukit Santuai itu nanti akan kita relokasi ke atas bukit supaya tidak lagi terendam saat banjir seperti sekarang,” kata Bupati Kotim, Halikinnor, dikutip dari Antara, Kamis 26 Agustus 2021.

BACA JUGA:   Hasil Denda Adat Telah Disalurkan Batamad dan Elemen Masyarakat Kotim Berbentuk 500 Paket Sembako

Banjir tahunan ini memang sulit dihindari karena faktor alam. Namun diakui, banjir yang terjadi belakangan cenderung meningkat sehingga merendam rumah warga dan bangunan milik pemerintah yang dibangun dekat sungai.

“Relokasi adalah solusi yang bisa ditempuh saat ini. Kalau untuk bangunan milik pemerintah, kita putuskan untuk direlokasi. Sementara itu untuk rumah warga, relokasi tergantung kesiapan masyarakat,” kata Halikinnor.

Menurut Halikinnor, pemerintah daerah hanya mengimbau masyarakat untuk pindah ke lokasi yang lebih aman dari banjir. Pemerintah daerah juga terus berupaya membuka jalan di sejumlah lokasi menuju desa yang terisolasi dengan harapan masyarakat mau pindah dari kawasan rawan banjir ke dataran tinggi yang lebih aman.

BACA JUGA:   Sekdis Koperasi dan UKM Kotim : Sebelum Membuat AD/ART Koperasi Konsultasikan Dulu dengan yang Ahlinya

Relokasi permukiman penduduk tidak bisa dipaksakan. Relokasi harus didasari kesadaran dan kemauan masyarakat sehingga bisa berjalan sesuai harapan.

“Dulu di Desa Hanjalipan direlokasi tapi masyarakat tidak mau pindah kalau tidak ada kemauannya. Tapi biasanya kalau ada dibangun jalan, misalnya jalan kabupaten, jalan provinsi atau jalan negara maka masyarakat mau pindah bermukim. Ini perlu proses dan tahapan karena mengubah kebiasaan masyarakat untuk tidak hidup di pinggir sungai,” jelas Halikinnor.

Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi mengakui, Puskesmas Tumbang Penyahuan merupakan langganan banjir tahunan. Pihaknya sudah merencanakan merelokasi puskesmas tersebut.

“Kami sudah instruksikan kepada kepala puskesmas agar pelayanan jangan sampai terganggu. Diupayakan pinjam ruangan tempat lain yang tidak terdampak banjir untuk pelayanan. Kami tetap berupaya agar dapat tanah yang lebih tinggi, tidak kena banjir untuk relokasi puskesmas,” kata Umar Kaderi.

(BS-65/beritasampit.co.id)