Wakil Ketua II DPRD Kobar: Relokasi Bukan Berarti Melenyapkan Kearifan Lokal

IST/BERITA SAMPIT - Banjir di beberapa desa di Kecamatan Aruta, hingga Minggu, 5 September 2021 masih terjadi karena curah hujan cukup tinggi.

PANGKALAN BUN – Dalam rangka menangani banjir yang terjadi setiap tahun yang merendam ratusan rumah warga di wilayah Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dilakukan dengan cara relokasi (pidah tempat).

Menurut Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kobar, Bambang Suherman relokasi bukan berarti melenyapkan kearifan lokal atau menghapus desa inti yang sudah ada secara turun temurun.

“Tapi hanya memindahkan pemukiman warga yang menjadi langganan banjir dipindah ke daerah yang lebih tinggi aman,“ kata Bambang Suherman, Minggu, 5 Agustus 2021.

Kata Bambang, setiap tahun pada musim hujan yang menjadi langganan banjir di Kabupaten Kobar antara lain wilayah Kecamatan Aruta dan Kotawaringin Lama (Kolam).

“Saat ini 2 desa di Kecamatan Kolam, yakni Desa Kondang dan Desa Lalang mulai diterjang banjir. Kejadian ini menjadi langganan setiap tahunnya, begitu juga dengan desa-desa yang ada di Kecamatan Arut Utara. Sehingga perlu ada terobosan yang berani dari Pemkab Kobar dalam menghadapi masalah ini, jalan satu-satunya hanya merelokasi dengan tetap mengedepankan kearifan lokal,“ ujar Bambang.

BACA JUGA:   PAD Kobar Masih Rendah, DPRD Kobar Belajar Ke Kotim

Kedepannya kata Dia, Pemkab Kobar segera membuat inovasi baru untuk melakukan relokasi bagi desa yang menjadi langganan banjir. Pemerintah Daerah menyiapkan lahan dan tidak perlu harus luas yang penting untuk mencukupi seluruh kepala keluarga.

“Karena musibah banjir ini menjadi dilema yang berkepanjangan, kalau tidak segera kita tangani. Karena hampir 20 tahun, setiap tahun kita kucurkan terus dana dari APBD ini untuk bantuan korban banjir, baik itu di kecamatan Kotawaringin Lama maupun di Arut Utara,” tutur Bambang.

BACA JUGA:   Sudah Divaksin, 14 Pelajar, Santri dan Mahasiswa Diberi Tali Asih

Untuk anggarannya bisa dari Pemerintah Provinsi dan Pusat, melalui program transmigrasi lokal, dan jika tidak ditangani seperti ini, maka akan sepanjang masa, sebab warga yang terdampak banjir sebetulnya menginginkan solusi bukan sekedar bantuan sembako saja.

“Wilayah kita ini memang luar biasa dan  mungkin beda dengan daerah lain, sekarang kita tengah terkuras dalam penanganan Covid-19. Artinya belanja tak terduga ini difokuskan pada bencana Covid-19. Kemudian kita pun dihadapi masalah banjir dan kebakaran hutan dan lahan,” jelas Bambang. (Man/beritasampit.co.id).