Perceraian di Barsel Meningkat, Didominasi Faktor Orang Ketiga dan Ekonomi

IST/BERITA SAMPIT - Panitera Pengadilan Agama Barsel, Ibramsyah, SH.

BUNTOK – Angka kasus perceraian di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Provinsi Kalimantan Tengah meningkat. Data Pengadilan Agama Barsel, faktor meningkatnya kasus perceraian didominasi permasalahan orang ketiga dan masalah ekonomi.

“Hal tersebut berdasarkan data sejak awal bulan Januari hingga September 2021 tercatat meningkat yakni 340 kasus perceraian yang didominasi permasalahan ekonomi serta adanya orang ketiga,” ungkap Panitera Pengadilan Agama Barsel, Ibramsyah, SH, Senin 20 September 2021.

Pada tahun sebelumnya untuk kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Barsel masih biasa saja, akan tetapi pada tahun 2021 di masa pandemi Covid-19 ini peningkatannya terjadi sangat signifikan.

“Kasus perceraian di Barsel pada tahun 2021 dan di masa pandemi saat sekarang ini peningkatannya terjadi sangat signifikan,” ujar Ibramsyah.

BACA JUGA:   4 Desa di Barsel Belum Proses Pencairan DD dan ADD Tahap II, Begini Tindakan Dinas SPMD

Selain dari 340 kasus perceraian tersebut saat ini masih tersisa 13 perkara yang masih belum diputuskan. Sedangkan untuk gugatan sejak awal tahun hingga saat ini tercatat ada 163 gugatan.

“163 tersebut termasuk perkara cerai talak maupun gugatan yang kita terima di Pengadilan Agama Kabupaten Barsel. Untuk cerai talak, yakni cerai yang dilayangkan atau diajukan oleh suami. Sedangkan untuk cerai gugatan sebaliknya cerai diajukan oleh istri,” jelas Ibramsyah.

Sedangkan, terkait isbat nikah dan dispensasi kawin, Pengadilan Agama Barsel menerima 197 permohonan. Oleh karenanya untuk dispensasi kawin apabila ingin menikah di bawah usia 19 tahun, Kantor Urusan Agama (KUA) tidak berani mengambil keputusan sehingga akan disidangkan ke Pangadilan Agama untuk memutuskannya.

BACA JUGA:   Capaian Sertifikasi Program PTSL di Barsel Diharapkan Sesuai Target

Ibramsyah mengimbau bagi pasangan suami/istri kalau bisa selalu menjaga kebersamaan rumah tangga dengan baik dan saling memberikan pengertian terhadap pasangannya, serta saling melengkapi kekurangan masing-masing dan tidak mementingkan ego sendiri.

Kata Ibramsyah, kebanyakan yang mengajukan gugatan cerai didominasi oleh pihak istri dan di usia 20 hingga 35 tahun. Namun dia tetap berharap kepada pasangan suami/istri untuk saling memberikan pengertian dan saling memahami satu sama lain, sehingga dapat menjaga keharmonisan rumah tangga dari perceraian. (Ded/beritasampit.co.id).