Komisi VII DPR Optimis Industri Baja Lokal Mampu Go Internasional

Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin. (dok: istimewa).

JAKARTA– Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin berharap pabrik industri baja lembaran panas (hot strip mill/HSM) milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada Selasa, (21/9), tersebut bisa mendorong hilirisasi industri baja sehingga mampu memenuhi kebutuhan baja nasional.

Pabrik senilai Rp7,5 triliun tersebut dinilai sebagai pabrik baja yang menggunakan teknologi tercanggih kedua di dunia setelah pabrik yang menggunakan teknologi serupa dibangun di Amerika Serikat.

“Saya sangat optimis ya. Kita punya potensi, kita punya hulunya. Tinggal bagaimana potensi itu kita kembangkan dan tingkatkan,” tutur Mukhtarudin, Minggu, (26/9/2021).

Pabrik baja milik PT Krakatau Steel (Persero) memiliki kapasitas produksi hot rolled coil (HRC) sebanyak 1,5 juta ton per tahun. Ke depan, pabrik ini ditargetkan bisa berkapasitas produksi hingga 4 juta ton per tahun dan bisa berkontribusi pada target keseluruhan produksi perseroan hingga mencapai 10 juta ton per tahun pada 2025 mendatang.

BACA JUGA:   DPR Apresiasi Pencapaian Menko Airlangga Atas Penghargaan dari Pemerintah India

“Kita punya industrinya, punya SDM dan sumber daya bahan baku, teknologi. Saya yakin kalau betul-betul dilaksanakan dan ini adalah Goodwill kemauan pemerintah dan didukung Stakholder lainnya,” tandas Mukhtarudin.

Politisi Golkar Dapil Kalimantan Tengah ini mengatakan selain kebutuhan baja nasional dapat terpenuhi, produk tersebut bisa menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar internasional.

“Saya yakin kita bisa bersaing dengan pasar baja internasional. Bahkan kita bisa menguasai dunia. Lihat saja India. Orang orang kaya India itu pengusaha baja semua. Semua negara itu bisa maju, apabila mereka punya industri baja yang luar biasa,” ungkap Mukhtarudin.

BACA JUGA:   Dede Yusuf: RUU SKN Dorong Fasilitas Olahraga Rakyat, Tidak Cuma Stadion

Produksi baja ini juga dinilai menekan angka impor baja yang saat ini berada pada peringkat 2 komoditas impor Indonesia. Sehingga diharapkan nanti bisa menghemat devisa Rp29 triliun per tahun.

“Saya kira ini penting tantangan kita kedepan untuk kita gali. Kalau ini bisa kita gali, saya kira ini sebuah devisa sangat besar bagi negara. Tinggal bagaimana semua Stakholder bekerja sama dan punya kemampuan untuk membuat baja nasional kita Go Internasional. DPR tentu akan supporting terkait regulasi maupun hal-hal lain,” pungkas Mukhtarudin.

(dis/beritasampit.co.id)