Harga TBS Kelapa Sawit Naik, Rp2.560 Per Kg Di Kotabaru-Kalsel

Ilustrasi - TBS Kalapa Sawit//Ist_Antara;

KOTABARU – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sebagian wilayah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, naik Rp60 per kilogram dari Rp2.500 menjadi Rp2.560 per kiligram.

Seorang pedagang pengumpul di Kotabaru, Hilmi, Selasa mengatakan, mulai 17 Oktober 2021 harga TBS naik sebesar Rp60/kg menjadi Rp2.560 per kilogram.

Abu Bakar, seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit, mengatakan, harga tersebut termasuk yang tertinggi dalam satu dekade hampir empat tahun terakhir.

Meski harga TBS mencapai harga puncak, namun perolehan hasil panen berupa TBS hampir empat bulan terakhir terus berkurang.

“Kali ini, tanaman kelapa sawit mengalami trek buah berkurang, meski harga TBS tergolong tinggi, namun pendapatan petani masih relatif rata-rata,” ujar dia.

BACA JUGA:   Pengusaha Tambang di Kalsel Diharapkan Bisa Berkontribusi Dalam Penanganan Covid-19

Sebelumnya, Wakil Ketua Koperasi Unit Desa Gajah Mada Kotabaru, Narso, menjelaskan, sudah menjadi hal yang biasa selama satu tahun tanaman kelapa sawit mengalami trek atau kondisi buah berkurang.

“Biasa dalam satu tahun itu ada waktunya panen raya, dan ada waktunya buah berkurang. Tinggal petani saja yang menjaga pendapatannya dikala buah sedang trek, agar tidak terlalu pusing mengatur keuangan,” tambahnya.

Dijelaskan, harga TBS dari tanaman swadaya berbeda harga dengan harga TBS yang dihasilkan dari tanaman plasma atau inti perusahaan. Meskipun demikian harga TBS secara umum dalam satu wilayah rerlatif sama, jika ada selisi tidak terlalu signifikan.

BACA JUGA:   Sudah di Vaksin Lengkap, Syarat Perjalanan Udara di Pulau Jawa dan Bali Bisa Gunakan Antigen

Hingga saat ini KUD Gajah Mada kawasan tersebut telah mengelola sekitar 7.100 hektare perkebunan kelapa sawit milik anggota yang berjumlah kisaran 5.000 orang.

Perkebunan kelapa sawitr milik anggota tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian, tahap pertama dan tahap kedua. Masing-masing tahap dan desa akan berbeda, tergantung kesuburan lahan, jarak kebun dengan pabrik kelapa sawit (PKS) dan faktor yang lainnya.

(Ant/BS-65/beritasampit.co.id)