Pemkot Palangka Raya Kembali Terima Penghargaan KLA dari Kementrian PPPA RI

IST/BERITA SAMPIT - Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin saat foto bersama dengan Kepala Dinas PPKBP3APM Kota, Sahdin Hasan usai menerima penghargaan KLA dari Kementrian PPPA RI.

PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya kembali menerima penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Republik Indonesia sebagai Kota Layak Anak (KLA) tingkat Pratama.

Pada bulan Juni 2021, Pemkot Palangka Raya juga mendapatkan penghargaan KLA dari Kementrian PPPA RI. Ini merupakan penghargaan yang kedua dalam memberikan inovasi-inovasi yang berkaitan dengan KLA.

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin yang menerima langsung penghargaan KLA dari Kementrian PPPA RI memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat langsung dalam upaya mewujudkan program KLA.

“Penghargaan ini merupakan apresiasi untuk kabupaten/kota yang telah menerapkan sistem pembangunan berbasis hak anak dengan capaian 24 indikator. Tentunya perolehan ini merupakan hasil dari menguatnya peran seluruh pihak dalam memenuhi hak dan melindungi anak-anak di Kota Palangka Raya,” jelas Fairid Naparin, 25 Oktober 2021 lalu.

Orang nomor satu di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ini menegaskan, bahwa predikat atau penghargaan KLA Pratama tahun 2021 yang telah diraih oleh Kota Palangka Raya sebagai salah satu bentuk komitmen Pemerintah dalam memenuhi hak-hak anak.

“Penghargaan ini menjadi salah satu komitmen kami menjadikan Kota Palangka Raya benar-benar ramah untuk anak. Kami juga berkeinginan nantinya seluruh hak-hak anak juga akan terpenuhi secara utuh,” ujarnya.

Kata Fairid, berbagai instansi terkait juga akan berkolaborasi dan secara bertahap meningkatkan sarana dan prasarana penunjang tumbuh kembang anak di pusat layanan publik.

BACA JUGA:   Tingkatkan Minat Baca Masyarakat, Dinas Perpustakaan Kota Luncurkan Aplikasi Baru

“Penganugerahan Kota Layak Anak ini juga menjadi penyemangat kami sebagai Pemerintah dalam upaya melindungi dan memenuhi hak anak yang ada di Kota Palangka Raya,” tuturnya.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPKBP3APM) Kota Palangka Raya, Sahdin Hasan mengungkapkan, 24 indikator yang terpenuhi secara maksimal dalam memberikan pelayanan, sehingga mendapatkan predikat atau anugerah KLA tingkat Pratama.

24 indikator KLA tersebut, tersedia peraturan dan kebijakan daerah tentang kabupaten/kota layak anak, menguatnya kelembagaan kabupaten, KLA, keterlibatan lembaga masyarakat dunia usaha, dan media dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Kemudian memasuki pada klaster yang menjadikan hak sipil dan kebebasan anak, dengan persentase anak yang terregistrasi dan mendapatkan Kutipan Akta Kelahiran, tersedia fasilitas informasi layak anak dan enam lembaga partisipasi anak.

Selanjutnya, klastar terkait dengan lingkungan dan pengasuhan alternatif dengan persentase perkawinan anak, tersedia lembaga konsultasi penyedia layanan pengasuhan anak bagi orang tua ataupun keluarga.

Persentase Pengembangan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUD-HI), persentase lembaga pengasuhan alternatif terstandarisasi, dan tersedianya infrastruktur (Sarana dan Prasarana) di ruang publik yang ramah anak.

Pada klaster kesehatan dasar dan kesejahteraan dengan persentase persalinan di fasilitas kesehatan, terkait prevalensi status gizi anak dan persentase cakupan pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) usia di bawah dua tahun.

BACA JUGA:   Hari Ini, Keluar Masuk Kalteng Lewat Bandara Cukup Pakai Antigen

Persentase fasilitas kesehatan terhadap pelayanan ramah anak, persentase rumah tangga dengan akses air minum dan sanitasi yang layak dan tersedia kawasan tanpa rokok dan tidak ada iklan, promosi dan sponsor rokok.

Memasuki klaster empat pada pendidikan, waktu luang, budaya dan rekreasi yang dimana terdapat persentase wajib belajar 12 tahun. Selanjutnya persentase Sekolah Ramah Anak (SRA) dan terkait tersedia fasilitas untuk kegiatan budaya, kreativitas dan rekreatif yang ramah anak.

Klaster kelima terkait dengan perlindungan khusus, kekerasan dan penelantaran anak yang terlayani dan persentase anak yang dibebaskan dari pekerja anak. Anak korban pornografi (NAFZA) dan terinfeksi HIV/AIDS yang terlayani, kemudian anak korban bencana dan konflik yang terlayani. Anak penyandang disabilitas, dan anak dari kelompok minoritas, terisolasi yang terlayani.

Poin selanjutnya, kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), khusus pelaku yang diselesaikan melalui diversi, diantaranya anak korban jaringan terorisme yang terlayani, anak korban stigmatisasi akibat dari pelabelan terkait dengan kondisi orang tuanya yang terlayani.

“Nah dari 24 indikator yang terpenuhi secara maksimal dalam memberikan pelayanan, sehingga mendapatkan anugerah kota layak anak tingkat Pratama dari Kementerian PPPA. Kita berharap kedepannya nanti, kita mendapatkan anugerah KLA itu yang tingkat madya, ini yang pratama dan ini juga baru pertama kali Palangka Raya mendapatkan penghargaan KLA,” tutup Sahdin Hasan. (M.Slh/beritasampit.co.id).