Pemkab dan BRGM Rehabilitasi Mangrove Kritis di Kecamatan Pantai Lunci-Sukamara

Bupati Sukamara, Windu Subagio bersama Forkopimda dan Koordinator Kepala Wilayah Kerja Kalimantan dan Papua Agung Rusdiyantoro menanam perdana percepatan rehabilitasi mangrove tahun 2021 di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Lunci, Kamis 11 Noember 2021.//Ist-ANTARA/Donefrid Lalang;

SUKAMARA – Pemerintah Kabupaten Sukamara Provinsi Kalimantan Tengah bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Pusat dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kahayan, melakukan rehabilitasi mangrove dalam rangka menjaga ekosistem di Desa Sungai Pasir Kecamatan Pantai Lunci, Kamis 11 November 2021.

Bupati Sukamara Windu Subagio, mengatakan, dengan merehabilitasi mangrove diharapkan ke depan dapat membantu menjaga ekosistem dan lingkungan semakin baik.

“Apapun upaya masyarakat termasuk budidaya kepiting, udang maupun ikan diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Windu, dikutip dari Antara, Kamis 11 November 2021.

BACA JUGA:   Pembelajaran Tatap Muka Normal Mulai Dilaksanakan di Sukamara

Sementara itu, Kepala BRGM melalui Koordinator Kepala Wilayah Kerja Kalimantan dan Papua, Agung Rusdiyantoro, menjelaskan bahwa penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari rehabilitasi lahan-lahan mangrove yang sudah dianggap kritis.

Menurutnya, jangan sampai akibat pemanasan global dan degradasi hutan menjadi isu dunia ke depannya. Makanya, harus dilakukan penambahan perluasan dalam rehabilitasi lahan mangrove kritis tersebut.

“Sesuai dengan data pada peta mangrove, bahwa ada sekitar 600 ribu tanaman mangrove yang memang harus dilakukan rehabilitasi dengan konsep 3M (mempertahankan, memelihara dan meningkatkan) sesuai dengan PP 26 tahun 2020 tentang rehabilitasi dan reklamasi,” ungkapnya.

Dijelaskan, rehabilitasi mangrove juga bertujuan untuk mengembalikan fungsi dari ekosistem mangrove itu sendiri. Selain itu, juga memiliki fungsi lainnya yakni untuk menahan laju abrasi yang meningkat setiap tahunnya.

BACA JUGA:   Wabup Sukamara Soroti Kondisi Bangunan Sejumlah SOPD

“Memang dalam rehabilitasi mangrove ada beberapa konsep dan bermacam pola dalam yang harus dilakukan, seperti yang kita ketahui bahwa rehabilitasi ini merupakan faktor abiotic, biotic dan capture yang memang harus diperhatikan dengan baik,” imbuhnya.

Salah satunya dengan mengetahui bagaimana tipe dari mangrove dan kondisi lahan. “Apakah terkena imbas abrasi atau sebagainya, sehingga pola-pola tanam yang akan dilakukan juga akan menyesuaikan menggunakan sistem tanam berjarak atau injeksi,” kata Agung.

(Ant/BS-65_beritasampit.co.id)