Akibat Bencana Banjir 168 Hektare Areal Tanam Padi di Kalbar Alami Puso

Kepala  Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum (ANTARA/Dedi)

PONTIANAK – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat hingga November 2021 ada 168 hektare areal tanam padi di Kalbar mengalami puso dampak bencana banjir.

Kepala  Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Florentinus Anum, mengatakan, Total areal tanam padi di tujuh kabupaten di Kalbar yang terkena banjir 2.825 hektare. Dari tujuh kabupaten yang terkena banjir, tercatat empat kabupaten yang areal tanam padinya mengalami puso seluas 168 hektare

Terkait luas puso 168 hektare, maka diperlukan penggantian benih sekitar 4,20 ton (25 kilogram/hektare) dan Kementerian Pertanian (Kementan) RI telah mengalokasikan bantuan benih padi untuk mengurangi kerugian petani akibat banjir tersebut.

BACA JUGA:   Bupati Kapuas Hulu Ungkap Upaya Penipuan di Akun FB

Apabila produktivitas padi di masing masing kabupaten yang mengalami puso sama dengan Angka Sementara BPS tahun 2021, maka kehilangan hasil padi akibat puso di Kalbar diperkirakan sebanyak 527 ton Gabah Kering Panen (GKP).

“Dengan rata rata harga GKP sebesar Rp4.500 per kilogram, maka nilai kerugian petani di Kalbar karena puso diperkirakan sekitar Rp2.371.500.000,” kata Florentinus Anum, dikutip dari Antara, Rabu 1 Desember 2021.

Untuk antisipasi terhadap bencana La Lina, pihaknya mendorong Pemda kabupaten melakukan upaya upaya penanganan seperti pembersihan parit atau saluran memanfaatkan bantuan pompa untuk membuang air, serta mengaktifkan posko-posko di tingkat desa dan kecamatan.

BACA JUGA:   Sejumlah Jabatan Kepala Dinas Dilelang Pemkot Pontianak

Kemudian Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di Kalbar harus mengintensifkan pengamatan perkembangan banjir dan memperbaharui pemetaan wilayah rawan banjir dan meningkatkan peringatan dini dengan rutin memantau informasi BMKG.

“Penting juga kesiagaan Brigade La Nina dan pompanisasi in-out dari sawah, dan rehab jaringan irigasi. Kemudian penggunaan benih tahan genangan seperti Inpara 1-10, Inpari 29, Inpari 30, Ciherang dan lainnya. Dengan langkah – langkah tersebut, kerugian petani dapat diminimalisir dengan terus intens melakukan koordinasi lintas sektoral terkait pengelolaan sumber daya air dan pengurangan resiko bencana,” katanya.

(Antara/BS65_beritasampit.co.id)