Tim Pendamping Berperan Penting Bantu Percepatan Penurunan Stunting di Kotim

SAMPIT – Menekan kasus stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur, salah satunya di wilayah perkotaan yakni Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Pemerintah setempat melalui Penyuluh Keluarga Berencana, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Kelurga Berencana (DP3AP2KB) Kotim, menggelar kegiatan Orientasi Kader Tim Pendamping Keluarga, yang digelar di Aula Kantor Satpol PP Kotim, Kamis 2 Desember 2021.

Kegiatan ini diikuti sekitar 33 orang peserta perwakilan tim pendamping yang tergabung dari Bidan, Kader PKK dan Kader KB di Kelurahan dan Desa, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Dalam arahannya, Penyuluh KB Mentawa Baru Ketapang Isna Latifah, yang juga bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan tersebut mengungkapkan tim pendamping memiliki peran penting dalam mencegah serta membantu penurunan stunting yang saat ini menjadi perhatian secara nasional.

“Stunting menjadi isu nasional, apa lagi kasus stunting Indonesia berada di tingkat 5 dunia. Dan nomor 2 di Asia Tenggara. Karena dianggap meresahkan, sehingga ini menjadi permasalahan bersama untuk menuntaskan, paling tidak ikhtiar menurunkan itu,”kata Isna.

BACA JUGA:   Terpilih Ketua MUI Kota Besi 2022-2026, Arif Efendi: Siap Jalankan Amanah 5 Tahun

Untuk sasaran pencegahan stunting yakni pada calon pengantin, ibu hamil, pasca melahirkan dan menyusui, serta pada bayi berusia 1000 hari kehidupan atau dari 0 sampai 2 tahun, yang beresiko terkena stunting.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

“Stunting tidak hanya terjadi dikalangan masyarakat ekonomi lemah, namun ekonomi atas juga bisa kena, karena akibat gizi,”ujarnya

“Apa lagi saat ini, melihat pola makan anak-anak sekarang yang instan-instan, yang lagi trend namun gizinya tidak ada. Yang susahnya mengawasi ibu-ibu hamil muda, disini peran orang tua harus intervensi bagaimana pasokan gizinya,” lanjutnya.

BACA JUGA:   Pandemi Belum Berakhir, Gubernur Kalteng Ingatkan Masyarakat Jangan Takut Vaksinasi

Isna mengingatkan, Ibu hamil lebih memperhatikan gizi dan makannya, sebab makanan sangat berpengaruh terhadap janin.

“Faktor utama penyebab stunting adalah kurang asupan gizi saat hamil dan pasca melahirkan,” paparnya.

Untuk memenuhi gizi tidak selalu mahal, yang terpenting cukup dalam satu piring ada nasi, sayur, tahu dan tempe walau hanya sedikit ikan.

Ditambahkan, dampak stunting terhadap kesehatan, dampak jangka pendek terganggunya perkembangan otak, kecerdasan berkurang, gangguan pertumbuhan fisik, gangguan metabolisme dalam tubuh.

Jangka panjang, menurunnya kemampuan belajar, kekebalan tubuh dan gampang terserang penyakit, deabetes, jantung dan obesitas dan lain-lain.

“Usia hidup di indonesia lebih pendek dibanding dulu. Sehingga ini jadi PR kita melakukan penurunan dari stunting di Kotim ini, khususnya di indonesia dari peringkat 5 dunia agar bisa turun lagi,”tutupnya.

(Cha/beritasampit.co.id)