Antologi “Mengheningkan Puisi” Benny Benke, Siap Temui Pembaca

Sampul buku kumpulan puisi karya jurnalis Benny Benke "Mengheningkan Puisi" (Antara/handout-BB)

JAKARTA – Antologi atau kumpulan puisi jurnalis sekaligus penyair Benny Benke bertajuk “Mengheningkan Puisi” siap menemui pembacanya setelah sempat hampir setahun mondok di meja editor.

Buku setebal 140 halaman itu merangkum 49 sajak yang ditulis Benny Benke dari 2004 hingga tahun 2021. Dengan berbagai latar peristiwa di sejumlah kota yang pernah disinggahinya. Dari Moskwa, St. Petersburg, Tsarkoye Selo, Tula, Berlin, Cannes, Juan Les Pains, Monaco, Madinah, Mekah, Tokyo hingga Jakarta.

“Secara resmi dan perseorangan, ini (antologi) pertama tapi kalau berbarengan dengan penyair lain, sudah (buku) yang kesekian,” ujar Benny lewat pesan elektroniknya di Jakarta, Sabtu 22 Januari 2022.

Editor “Mengheningkan Puisi” Doddi Ahmad Fauji menuturkan laporan perjalanan yang dilakukan oleh Benny, selaku jurnalis yang semula berasal dari kata ‘journ’ kemudian terdapat kata journey, dan akhirnya menjadi journalist atau wartawan, adalah puisi-puisi muhkamat (transparan) yang perlu direnungkan, yang mengajak pembaca untuk benar.

BACA JUGA:   "Kuntilanak 3" Muncul di Bioskop

“Keterangan yang sudah jelas serta dianggap benderang pun, bila coba direnungkan kembali secara intrinsik dan ekstrinsik, berulang-ulang dan intensif, ternyata bisa tertangkap sisipan yang simbolik,” ujarnya.

Pendapat senada dinyatakan novelis Bre Redana yang menjuluki bunga rampai “Mengheningkan Puisi”, ditulis Benny Benke dengan pilihan bahasa yang benderang, sebagaimana prosa acap menuturkan kisahnya, dengan liris, lirih bahkan seringkali berderak-derak.

“Puisi-puisi Benny dalam cita rasa saya bersifat prosaik. Dengan seketika, saya menjadi akrab dengannya. Dinamika dibangun dengan kesadaran prosaik. Saya seperti membaca babad. Atau mungkin travelogue,” ujarnya.

BACA JUGA:   Rayakan Hari Bumi Lewat Ragam Dokumenter National Geographic

Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri menilai buku puisi Benny menyoroti berbagai masalah sosial, politik, cinta, serta renungan kehidupan lainnya tampil dalam buku ini.

“Mengheningkan Puisi sebagian besar ditulis dengan bahasa prosa. Kiranya tidak mudah menyimpan atau menyamarkan, atau menyarankan puisi pada baris atau larik bahasa prosa, yang ditulis, saya kira, dengan lebih mengutamakan spontanitas dibanding kewaspadaan dalam memilih diksi,” katanya.

Meski demikian, penyair yang akrab disapa SCB ini tetap mengaku menyenangi sejumlah puisi dalam buku yang diedarkan secara gerilya tersebut.

(Antara)