Faktor Gizi Menjadi Penyebab Masih Adanya Stunting

Ketua DPD Persagi Kalteng Mars Khendra Kuspriadi (kanan) menyerahkan tumpeng dalam peringatan ke-62 Hari Gizi Nasional kepada Asisten III Setda Kalteng Lies Fahimah dan didampingi Kepala Dinas Kesehatan Suyuti Syamsul, Palangka Raya, Selasa 25 Januari 2022. ANTARA/Muhammad Arif Hidayat

PALANGKA RAYA – Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, Suyuti Syamsul mengatakan, salah satu variabel penentu penyebab masih adanya stunting adalah faktor gizi.

Suyuti mencontohkan di beberapa negara, melalui pengelolaan gizi yang baik ternyata bisa meningkatkan tinggi badan masyarakat, salah satunya adalah Jepang.

Untuk itu ia mengingatkan, faktor gizi sangat penting untuk pertumbuhan mulai dari anak hingga dewasa, termasuk dalam membentuk antibodi, hingga menguatkan daya tahan tubuh.

“Faktor gizi memiliki peranan cukup besar, sehingga┬ábetapa pentingnya posisi gizi seimbang demi mewujudkan masyarakat sehat dan kuat,” kata Suyuti pada Peringatan Hari Gizi Nasional ke-62 di Palangka Raya, Selasa 25 Januari 2022.

“Makan itu tidak asal kenyang sebenarnya. Tak kenyang tak masalah, tetapi variasi gizinya pas,” lanjutnya menerangkan.

BACA JUGA:   Kemenkumham Kalteng Perkuat Fungsi Keimigrasian di Sampit

Misalnya hanya mengejar kenyang dan hanya mengonsumsi karbohidrat, maka hal ini juga tidak sehat karena dalam jangka panjang akan menyebabkan berbagai penyakit. Sekarang yang digunakan adalah gizi yang seimbang dan berasal dari sumber makanan bervariasi.

Ia menjabarkan, pemda melalui pihak terkait lainnya, termasuk Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) secara gencar mengedukasi masyarakat, agar bisa memenuhi kebutuhan gizi yang cukup dan tepat.

Hasilnya, berkat berbagai intervensi dan upaya termasuk edukasi mengenai gizi seimbang yang terus dilakukan, beberapa waktu lalu prevalensi stunting Kalteng untuk 2021 berhasil mengalami penurunan.

BACA JUGA:   Rugikan Miliaran Rupiah, Pelaku Investasi Bodong Ini Terancam 10 Tahun Penjara

“Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia yang dirilis beberapa waktu lalu, prevalensi stunting di Kalteng menurun dari 32,3 persen (2019) menjadi 27,4 persen (2021),” ungkapnya.

Sementara itu Ketua DPD Persagi Kalteng Mars Khendra Kuspriadi mengatakan, provinsi setempat memiliki masalah gizi diantaranya masalah gizi kurang yaitu stunting dan gizi berlebih yaitu obesitas.

“Ini yang sebenarnya perlu kita waspadai. Anak-anak yang saat ini mengalami stunting bisa memiliki risiko jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.

Untuk itu, sasaran pihaknya dalam Peringatan Hari Gizi Nasional diantaranya mencegah stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

(Antara/BS65)