Emas Jatuh Setelah Dolar Menguat dan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Pramuniaga menunjukkan emas untuk investasi atau batangan Antam di sebuah gerai emas di Malang, Jawa Timur, Kamis (10/3/2022). . ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc. (ARI BOWO SUCIPTO/ARI BOWO SUCIPTO)

CHICAGO – Emas jatuh pada akhir perdagangan Kamis 14 April 2022 (Jumat pagi WIB) setelah dolar menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ketika investor bersiap untuk kenaikan suku bunga AS, tetapi permintaan safe-haven yang dipicu oleh krisis Ukraina dan inflasi yang meningkat membuat emas tetap di jalur untuk kenaikan mingguan.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di divisi Comex New York Exchange, tergelincir 9,8 dolar AS atau 0,49 persen, menjadi ditutup pada 1.974,90 dolar AS per ounce.

Pasar emas juga sedikit overbought secara teknis.

Emas berjangka terangkat 8,6 dolar AS atau 0,44 persen menjadi 1.984,70 dolar AS pada Rabu (13/4/2022), setelah melonjak 27,9 dolar AS atau 1,43 persen menjadi 1.976,10 dolar AS pada Selasa (12/4), dan menguat 2,6 dolar AS atau 0,13 persen menjadi 1.948,20 dolar AS pada Senin (11/4).

BACA JUGA:   Krisis Energi Jangan Perdalam Ketergantungan Bahan Bakar Fosil

Sementara bank sentral di seluruh dunia berlomba untuk menjinakkan lonjakan inflasi, Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (14/4) tetap pada rencananya untuk menarik kembali stimulus tahun ini, sebuah langkah yang terlihat kurang agresif dalam menghadapi inflasi yang melonjak.

“Anda mendapat kejutan dovish dari ECB, yang benar-benar memberikan kekuatan di sini untuk dolar. Jadi emas mendapat pukulan keras di sini,” kata Edward Moya, analis senior OANDA.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,5 persen, membuat emas yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Juga memukul emas pada hari itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan naik.

Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik, kenaikan suku bunga meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

BACA JUGA:   Bos Repsol Honda Kabarkan Kondisi Terkini Marc Marquez

Presiden Fed New York John Williams mengatakan bank sentral harus mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga setengah poin persentase pada pertemuan berikutnya pada Mei. Menurutnya kenaikan suku bunga 50 basis poin adalah “opsi yang sangat masuk akal” untuk Mei 2022.

Namun, emas masih menuju kenaikan mingguan kedua berturut-turut, sejauh ini naik sekitar 1,3 persen.

“Rusia tampaknya bersiap untuk meluncurkan serangan besar di timur negara (Ukraina) – yang menghasilkan permintaan emas yang cukup besar sebagai tempat yang aman,” kata analis Commerzbank Daniel Briesemann dalam sebuah catatan.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei turun 33 sen atau 1,27 persen, menjadi ditutup di 25,7 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 4,6 dolar AS atau 0,46 persen, menjadi ditutup pada 994,2 dolar AS per ounce.

ANTARA