Cangkang Sawit Sebagai Biomassa Alternatif, Komisi VII DPR Usul Ada DMO

Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin

JAKARTA– Cangkang kelapa sawit merupakan sumber daya alam sangat dibutuhkan dalam kelangsungan hidup manusia, pemanfaatan cangkang sawit ini akan difokuskan pada biomassa alternatif.

Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtarudin mengatakan penggunaan cangkang kelapa sawit untuk bahan bakar industri dilakukan dengan mengolah komoditas tersebut menjadi biomassa yang kemudian dimanfaatkan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Cangkang kelapa sawit sejatinya memiliki banyak kandungan unsur yang luar biasa. Mulai dari kadar air yang lembab, intensitas abu yang minim, kadar penguapan yang tinggi sampai dengan kandungan karbon aktif,” beber Mukhtarudin, Rabu, (7/9/2022).

Politisi Golkar Dapil Kalimantan Tengah ini bilang cangkang sawit ini banyak digunakan sebagai bahan bakar alternatif di sektor industri saat ini.

BACA JUGA:   Jika KIB dan PDIP Bergabung, Potensial Usung Ganjang-Airlangga

“Di beberapa pabrik tanah air saat ini sudah menggunakan cangkang sawit. Jadi saya kira harusnya diatur DMO seperti batu bara, untuk jadi prioritas dalam negeri kita,” beber Mukhtarudin.

Pasalnya, Anggota Banggar DPR RI ini mengatakan bahwa industri dalam negeri yang menggunakan cangkang sawit sebagai energi saat ini mengalami kesulitan untuk pembelian cangkang sawit.

Untuk itu, Mukhtarudin pun mengusulkan agar adanya domestic market obligation (DMO) untuk komoditas cangkang kelapa sawit. Karena, permintaan yang tinggi di pasar dunia.

“Di pasar ekspor, Indonesia banyak mengapalkan cangkang sawit ke Jepang yang juga tengah menggenjot penggunaan sumber energi lebih hijau,” pungkas Mukhtarudin.

BACA JUGA:   Fotografi Sektor Ekraf Berbasis Kekayaan Intelektual

Diketahui permintaan deras mengalir terutama dari Jepang, harga cangkang sawit menjadi lebih mahal. Sampai dengan kuartal III/2021, ekspor cangkang sawit Indonesia mencapai US$286 juta atau sekitar Rp4,1 triliun.

Dari jumlah tersebut, Jepang menguasai kontribusi sebesar 84,5 persen, diikuti Thailand, Singapura, Korea Selatan, dan India. Sekarang jadi mahal karena banyak diekspor ke Jepang, karena di sana juga fokus penggunaan EBT.

(adista/beritasampit)

(Visited 35 times, 1 visits today)