Upaya Pemkab Barito Utara Kendalikan Inflasi dengan Penguatan Ketahanan Pangan

Kepala Dinas Pertanian dan Kadis Sosial PMD Barito Utara berada di kawasan tanaman kedelai yang ditanam kelompok tani Kenangan Desa Payang Kecamatan Gunung Purei, Senin (19/92022).ANTARA/Dokumen Pribadi

MUARA TEWEH – Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, melakukan penguatan ketahanan pangan di sembilan kecamatan sebagai langkah pengendalian inflasi dan menekan potensi inflasi daerah pada tingkat desa.

“Kami dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta Dinas Pertanian Barito Utara turun ke kecamatan dan desa secara bersamaan untuk melakukan pembinaan dalam penguatan pangan,” kata Kepala Dinas Sosial PMD Barito Utara, Eveready Noor di Muara Teweh, Rabu 21 September 2022.

Menurut dia, penguatan tahanan pangan itu dilakukan dengan bimbingan teknis (bimtek) di enam balai penyuluhan pertanian se-Kabupaten Barito Utara dan dilaksanakan di Desa Lampeong Kecamatan Gunung Purei.

BACA JUGA:   Tekan Stunting, BKKBN Kalteng Optimalkan Operasional Pelayanan KBRS

Bimtek tersebut dihadiri dari penyuluh pertanian, kelompok tani, kepala desa di Kecamatan Gunung Purei, Camat serta unsur Tripika Kecamatan Gunung Purei dengan jumlah peserta 70 orang.

“Dalam kegiatan tersebut juga, para kepala desa diminta menyediakan masing-masing desa menyiapkan lahan untuk ketahanan pangan,” katanya.

Eveready mengatakan penguatan ketahanan pangan ini dilakukan agar daerah terhindar dari dampak inflasi dan sebagai mitigasi, melalui penggunaan dana desa yang diputuskan dalam musyawarah desa khusus dan dimasukkan ke dalam APBDes.

“Untuk sementara dalam hal APBDes belum dapat digunakan, dalam musyawarah desa khusus dapat memutuskan dana talangan untuk pengendalian inflasi dan mitigasi dampak inflasi daerah pada tingkat desa,” kata dia.

BACA JUGA:   Polsek Gunung Timang Bagi Bansos untuk Warga Terdampak Banjir

Kepala Dinas Pertanian Barito Utara Syahmiludin A Surapati mengatakan dalam penentuan luas lahan pertanian menggunakan titik koordinat oleh kelompok tani yang dikoordinir tenaga penyuluh pertanian dengan menggunakan smartphone sehingga membutuhkan koneksi internet.

“Hal ini tentunya berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan penyuluh, tujuan untuk berbagi pengetahuan tentang pemanfaatan smartphone untuk mendukung tugas penyuluh, serta dalam hal ini pendampingan penyusunan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) kelompok tani,” kata Syahmiludin.

(ANTARA)

(Visited 39 times, 1 visits today)