Praktisi Hukum Asal Palangka Raya Pertanyakan Regulasi Penggunaan Gas Air Mata saat Ricuh di Kanjuruan

(IST/BERITA SAMPIT) - Praktisi Hukum Enrico Tulis

PALANGKA RAYA – Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, mengakibatkan seratus lebih korban meninggal dunia dan juga luka-luka, Sabtu 01 Oktober 2021 usai laga Arema FC Vs Persabaya.

Rusuh di stadion Kanjuruhan itu lantaran para supporter kecewa atas hasil pertandingan dan turun ke lapangan, selanjutnya petugas melakukan upaya-upaya pencegahan dan terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata karena situasi pada saat itu mulai tidak kondusif.

Atas kejadian tersebut Praktisi Hukum muda, M. Enrico Hamlizar Tulis, S.H mengatakan bahwa dalam hal ini Polri wajib mengusut tuntas apa yang menjadi penyebab kerusuhan.

“Tentu adanya dibuat tim pencari fakta guna mengusut kasus ini baik mencari provokator dibalik kejadian ini dan juga terhadap para pihak berwenang yang salah dalam cara pengendalian massa yang mungkin masih bisa menggunakan cara lain sebelum menembakkan gas air mata, contoh masih ada water canon” ucap Enrico Tulis, Minggu 02 Oktober 2022.

BACA JUGA:   Kolaborasi HMI Komisariat FKIP dan FEB Gelar Maulid Teladani Akhlak Nabi Muhammad

“Kita harus cari tahu, apakah pada saat itu masuk keadaan darurat (force majeure) atau tidak, kalau masuk maka disini petugas sudah menjalankan sesuai Undang-Undang. Namun jika tidak, maka bisa dikatakan peristiwa pidana,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa penggunaan gas air mata sebagai upaya pengendalian massa jelas dilarang didalam regulasi FIFA Stadium Safety and Security Regulation, karena dilansir dari media nasional ada dugaan tembakan gas air mata yang salah sasaran dan mengarah ke tribun penonton.

BACA JUGA:   Disperindag Palangka Raya Akan Laksanakan Operasi Pasar hingga Desember

“Dan apabila terbukti faktor dari banyaknya korban jiwa tersebut karena kesalahan dari cara pengedalian massa maka Kapolda Jatim pun layak untuk mengundurkan diri,” ungkap pemuda yang kerap dipanggil Rico ini.

“Ingat, Tidak ada SOP yang menyampingkan Kemanusiaan dan tidak ada pertandingan sepak bola yang sebanding dengan nyawa,” tutupnya.

(aulia)

(Visited 46 times, 1 visits today)