Harga Pupuk di Desa Lere Meroket, Pengecer Berikan Klarifikasi

NAIN/BERITA SAMPIT : Foto Saat Kegiatan Rapat Koordinasi Terkait Tingginya Harga Pupuk Subsidi di Aula Kantor Pemerintah Kecamatan Parado Beberapa Hari yang Lalu

BIMA – Meroketnya harga pupuk subsidi jenis urea dan NPK di Kecamatan Parado Kabupaten Bima Propinsi NTB menjadi keluhan masyarakat tani. Salah satunya di Desa Lere. Hal tersebut dikarenakan melambungnya harga pupuk subsidi hingga Rp200.000. Hal ini sudah melebihi harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp112.500/ 50 kg untuk jenis urea serta Rp115.000/ 50 Kg untuk jenis NPK.

Salah satu pengecer pupuk subsidi di kecamatan Parado Nn (inisial) memberikan klarifikasi terkait informasi tersebut.

Ia menduga ada kesalahpahaman dalam harga pupuk. Sebab semua pengecer yang ada di kecamatan Parado menjual pupuk subsidi Rp150.000/ Kg.

“Perlu saya sampaikan, bahwa tidak pernah melakukan penjualan pupuk subsidi dengan harga Rp200.000, itu terjadi kesalah pahaman. Kami seluruh pengecer memang benar menjual pupuk subsidi seharga Rp150.000, tapi kalau menjual dengan harga Rp200.000 itu tidak benar, dan itu saya jual Rp150.000 karena saya antar langsung ke rumah para pembeli,” ungkapnya, Senin 17 Oktober 2022.

Dijelaskannya, atas kesepakatan seluruh pengecer di Kecamatan Parado, memang benar bahwa pengecer di Kecamatan Parado menjual pupuk subsidi hingga Rp150.000/50 Kg

BACA JUGA:   Penghijauan Wilayah Pegunungan di Desa Lere yang di Fasilitasi Pihak Asing Dibatalkan, Ada Apa?

“Fakta yang terjadi bahwa pupuk yang dibeli masyarakat itu mereka beli dari sesama masyarakat bukan dibeli langsung ke pengecer. Kita menjual melebihi harga HET tersebut karena untuk pelaporan dan penginputan data juga membutuhkan biaya hingga 1 juta lebih. Meskipun hal demikian sudah jelas melanggar aturan, akan tetapi sebelum di lakukan penjualan dan di salurkan ke masyarakat tani kami pengecer terlebih dahulu menjelaskan bahwa pupuk subsidi  dijual dengan harga Rp150.000, apalagi jalan menuju Desa Lere tidak bisa di lalui oleh angkutan yang muatannya berat karena disebabkan tanjakan jalannya yang dilalui cukup panjang,” terangnya.

Ditambahkanya, ketika pupuk yang di salurkan oleh distributor ke pengecer, maka pembongkaranya dilakukan di Desa Parado Rato.

“Sebelum di salurkan ke masyarakat tani, khususnya Desa Lere, Saya salin dulu di gudang, dan itu juga perlu biaya, hingga  Rp1.600.000, karena pupuk itu kita lakukan pengantaran 2 kali muatan, sebab tidak mungkin bisa dilalui oleh kendaraan dengan muatan 10 ton, karena medan menuju Desa Lere kan tidak bisa dilalui kendaraan dengan muatan yang berat. Khususnya di Desa Lere, Setiap permintaan ini saya antar dari gudang ke rumahnya, bukan diambil di gudang saya. Karena saya langsung antar door to door ke petani, dan itu ada kesepakatan bersama dengan petani,” Bebernya.

BACA JUGA:   BPD Risa Bima Gelar Peningkatan Kapasitas, Hadirkan Direktur SPIN

“Kita pengecer kalau memang sudah ada kesepakatan terkait harga jual pupuk, kita jalani saja mana baiknya yang penting pedagang pun dapat untung meskipun walaupun tidak banyak. Terus terang, saya sebagai pengecer tidak bisa menjual dengan harga HET, karena memang banyak hal administrasi juga yang perlu kita pikirkan, sebab pelaporan pun tidak terlepas dari biaya,” harapnya.

Disampaikannya, Jadi pedagang pupuk tidaklah mudah, karena pembuatan laporan juga butuh biaya, termasuk buat gaji tenaga admin. Belum lagi macam-macam kendala di setiap perjalanan.

“Saya belum bisa melakukan penyaluran ke masyarakat tani sebelum ada kesepakatan terkait harga, yang pastinya berharap pemerintah terkait bisa memahami kami pedagang,” tutupnya. (nain)