Warga Kasongan Kembali Dihebohkan dengan Kasus Bunuh Diri

ILUSTRASI

KASONGAN – Kasus bunuh diri kembali terjadi di Kota Kasongan, Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan. Sabtu 5 November 2022.

Kejadian ini terjadi sekira pukul 18.00 Wib di Jalan Palangka Raya, No. 126, RT.06, RW.02, Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir.

Pria yang dikenal bernama Anwar Annas alias Aan (35) ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di dalam rumahnya.

Kejadian ini bermula ketika sang ibu bernama Niwae (52) berniat menawarkan makan malam kepada anaknya Aan yang berada disebelah rumahnya.

Merasa curiga suasana rumah terasa sepi, setelah melangkah masuk dalam rumah. Betapa terkejutnya dia melihat anaknya sudah dalam keadaan tergantung dengan sebuah tali nilon berwarna biru.

Sontak ia pun berteriak meminta tolong kepada suaminya Icang Ismanto (48), seketika itu juga mendatangi dan melihat anak tirinya sudah tergantung.

Mereka berdua pun sempat meminta bantuan ketetangganya untuk membantu melepaskan tali yang menggantung anaknya.

Kemudian bergerak cepat melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Katingan Hilir, setelah itu pihak kepolisian melakukan pengumpulan barang bukti dan saksi.

Menurut Kapolsek Katingan Hilir AKP Eko Priono dari keterangan orangtuanya, Aan diketahui pada tahun 2021 pernah di Rawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalawa Atei Palangka Raya selama 40 hari, karena defresi kemudian dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.

BACA JUGA:   Realisasi Fisik dan Keuangan Kabupaten Katingan Lebih 90 Persen

“Korban sudah lama bercerai dengan Istrinya, dan beberapa hari yang lalu mengadu kepada Ibunya bahwa istrinya sudah menikah lagi di Tumbang Samba yang diketahuinya dari Media Sosial Facebok,” jelas Kapolsek dengan beritasampit.

Diduga akibat defresi yang dialaminya, korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Setelah dilakukan proses evakuasi dan pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan sehingga dapat dipastikan bahwa korban tewas murni karena gantung diri.

Selain itu juga pihak keluarga mengaku sudah ikhlas dengan kematian korban dan menolak untuk dilakukan autopsi. Jenazah korban sudah dibawa ke rumah duka.

“Pihak keluarga sudah iklas dan telah menandatangani surat pernyataan tertulis bermaterai, penolakan Visum Et Revertum dan Otopsi,” pungkasnya.

Kasus ini kembali menambah catatan yang kurang bagus di tahun 2022, pasalnya tercatat dengan kasus ini ada delapan kasus bunuh diri.

Tercatat tujuh kasus terjadi selama periode Maret-April 2022. Enam kasus terjadi dengan cara gantung diri dan satu kasus dengan meminum racun. Dan kasus bunuh diri hari ini.

Sebelumnya pemerintah daerah Kabupaten Katingan telah mengambil langkah cepat menyikapi kasus tersebut dengan membentuk tim khusus untuk melayani konsultasi masyarakat yang mempunyai permasalahan berat.

BACA JUGA:   Polisi Amankan Dua Unit Truk Bermuatan Kayu Diduga Hasil Illegal Logging

Tim tersebut bertugas terdiri dari tokoh agama, pemerintah setempat, dan tokoh masyarakat. Dengan adanya tim itu, diharapkan kejadian bunuh diri tidak lagi terulang. Masyarakat diminta tak mengakhiri hidupnya sendiri jika ada masalah.

Meski pada akhirnya masih ada warga yang mengakiri hidup dengan cara bunuh diri.

Penyebab Bunuh Diri Ekonomi dan Rumah Tangga

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Katingan Elmon Sianturi saat wawancara beberapa bulan yang lalu mengatakan, pihaknya telah melakukan riset terkait tingginya angka bunuh diri.

Hasilnya, bukan hanya persoalan ekonomi yang menjadi penyebab kasus gantung diri, namun juga persoalan rumah tangga.

Dugaan penyebab kasus bunuh diri yang terjadi di Katingan tercatat empat kasus karena depresi akibat tak tahan dengan sakit yang diderita, satu kasus karena terimpit masalah ekonomi setelah kehilangan pekerjaan, dua kasus karena depresi tinggi, dan sisanya belum diketahui motifnya.

Dari berbagai pendapat para ahli banyak faktor yang bisa memengaruhi seseorang nekat mengakhiri hidupnya. Di antaranya, bawaan, lingkungan, pola asuh, dan tekanan. Mental psikologis seseorang bisa tertekan hingga mengalami gangguan kejiwaan berupa depresi.

Sehingga diperlukan lingkaran terdekat seseorang, terutama keluarga, bisa menjadi benteng pertama mengidentifikasi munculnya niat bunuh diri.

(Kawit)