‘Presiden’ Antar Pocong Ke Kantor DPRD Kalteng,Tanda Kecewa!!

2565
Presiden mahasiswa UPR Jimmy Balantikan S. Saat Melakukan aksi Antar Pocong Di Depan Kantor DPRD

PALANGKA RAYA – Buntut kekecewaan Mahasiswa beberapa waktu yang lalu saat melakukan Unjuk rasa penelokan Revisi UU MD3 yang saat itu anggota DPRD Kalteng tidak ada satupun di kantor, sebab itu mahasiswa sangat kecewa dan menyimpan simbol boneka pocong depan kantor DPRD. Aksi tersebut dilakukan oleh presiden mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR), senin (12/03/2018) pagi

“Aksi menyimpan mayat itu merupakan wujud kekecewaan kami sebagai perwakilan mahasiswa Kalteng terhadap sikap DPRD Kalteng yang dengan sengaja tidak mau menemui kami sebagai mahasiswa ketika aksi, dan tidak berada di kantor pada saat jam kerja,” pungkas Presiden mahasiswa UPR Jimmy Balantikan S.

Baca Juga:   Ditinggal Ikut Kemah Guru, Tiga Rumah Ludes Terbakar

Sebelumnya, 9 Maret 2018 bahwa mahasiswa Kalteng lakukan aksi demostrasi di depan kantor DPRD Kalteng, menolak UU MD3 lantaran menurutnya tidak berpihak kepada rakyat.

Sayangnya anggota DPRD Kalteng tidak ada satupun di kantor saat ditemui mahasiswa.

Saat jalannya aksi memang disampaikan Sekwan saat itu, bahwa anggota DPRD Kalteng sedang melaksanakan perjalanan dinas selama satu minggu, hal tersebut tidak bisa diterima mahasiswa.

“Seharusnya beberapa anggota harus tetap berada di Kantor untuk melaksanakan tugas yang ada di daerah Kalteng,” ujar Jimmy Balantikan S.

Baca Juga:   Ditemukan Kritis, Warjito Dikubur Tanpa Keluarga

Padahal mahasiswa mengakui ingin menyampaikan secara baik-baik, bahwa Revisi UU MD3 dapat merusak hakikat dari berdemokrasi.

Kata Jimmy bahwa, “Simbol mayat mati artinya DPRD saat dibutuhkan tidak ada orangnya dan tadi saya duduk berdoa supaya nanti saat temui rakayat, anggota Dewan ada yang ke kantor.” terangnya.

Mahasiswa Fakultas Pertanian UPR ini juga menegaskan bahwa masanya akan kembali lakukan aksi yang lebih besar, pada rabu 14 Maret 2018 di Gedung DPRD Kalteng

(sps/beritasampit.co.id)

Editor: MAULANA KAWIT

Komentar Facebook

comments