AgustinTeras Narang Takut Masyarakat Kalteng Jadi Minoritas

DIALOG. NA/BS - Teras Narang sampaikan paparan saat Reses di PGIW Kalteng.

Editor: Akhiruddin

PALANGKA RAYA – Ditetapkannya Passer Panajam Utara dan Kutai Karteanegara, Kalimantan Timur sebagai lokasi ibu kota baru menjadi tantangan tersendiri bagi Provinsi Kalimantan Tengah. Pasalnya Kalimantan Tengah akan menjadi yang akan menjadi daerah penyangga Ibu Kota Indonesia mendatang.

Ketua Komite I DPD RI Agustin Teras Narang dalam kunjungan Kerjanya ke Kantor Persatuan Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Kalteng senin, 16 Desember 2019 menyampaikan bahwa masyarakat Kalimantan Tengah harus mempersiapkan diri secara serius dalam menghadapi berbagai tantangan kedepan.

Mantan Gubernur Kalteng ini tidak ingin masyarakat Kalimantan Tengah menjadi minoritas yang baru dan tidak mampu bersaing dengan masyarakat daerah lain sebab pada tahun 2020 pembangunan akan segera di mulai.

BACA JUGA:   Diduga Korsleting Listrik Sebuah Rumah di Jalan Badak Nyaris Ludes Terbakar

“Lokasi ibu kota baru sangat dekat dengan Provinsi lain yaitu Sulawesi Tengah, jika dibandingkan dengan jarak dan akses ke Kalteng maka ke sulawesi jauh lebih mudah, akses nya juga enak karena hanya dibatasi oleh laut sekitar 4000 Mil yang menurut perhitungan seorang ahli hanya akan memakan waktu dua hari jika menggunakan kapal laut,” jelas Mantan Gubernur Kalteng dua periode ini.

Teras Narang menambahkan bahwa jika dihitung jarak dan akses semua suplai bahan baku untuk ibu Kota Baru akan banyak diambil dari sulawesi sebab Kalteng masih belum memiliki akses jalan yang sesuai dengan standar.

BACA JUGA:   Cegah Air Meluap Saat Hujan, Walikota Palangka Minta Warga Gotong Royong Bersihkan Drainase

“Jalan kita masih kelas tiga, hanya mampu untuk menampung maksimal 8 ton tidak mungkin kita dapat mengangkut sesuatu yang besar ke ibu kota baru,” ujar Teras Narang.

Teras pun berharap agar Pemerintah Kalimantan Tengah dapat mengantisipasi hal ini sehingga masyarakat Kalimantan Tengah tidak menjadi kelompok minoritas yang baru dan terpinggirkan. “Jangan sampai yang tersisa pada kita adalah kemiskinan dan kemelaratan,” tutup Teras Narang penuh harap.
(NA/ beritasampit.co.id)