Gara-gara ‘Tai Kucing’ Suami Pindah Rumah

Ilustrasi : Kang Maman

PERNIKAHAN atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan saling mengerti.

Tapi nampaknya harapan itu tidak dialami Diran (bukan nama sebenarnya), ia harus rela berpisah dengan isterinya sekitar dua bulan, lantaran istrinya tiba-tiba terobsesi pada kucing.

Tingkah laku istrinya mengumpulkan dan memelihara kucing membuat suami terusir dari tempat tidurnya sendiri.

Diran (51) warga disalah satu komplek perumahan di Pangkalan Bun kepada penulis mengungkapkan, dia tinggal di rumah orangtuanya sudah hampir dua bulan.

“Saya heran, istri saya tiba-tiba jadi penyayang kucing padahal dulu sejak 2 tahunan dia sering marah-marah kalau di rumah bau tai kucing. Tapi sekarang malah istri saya melihara kucing sampai 3 ekor, ada kucing warna bule jenis Persia, dan warna kehitam-hitaman jenis Anggora dan satu lagi kucing biasa,” kata Diran sambil melemparkan tali pancingnya saat bincang dengan penulis, Minggu 15 November 2020.

BACA JUGA:   Demi Kemanunggalan, TNI dan Warga Tak Gentar Hadapi Ganasnya Buaya Muara di Kotim

Lantaran, banyak kotoran kucing yang membuat ruangan rumah berbau, Ia kerap kali bertengkar mulut dengan sang istri.

“Saya sering bilang ke istri, boleh melihara kucing tapi kalau kucing berak jangan didalam rumah. Tapi diomongi begitu istri enggak pernah menurut, ya terpaksa sementara saya pindah ke rumah orang tua,” ujar Diran.

Ia mengatakan sebenarnya tidak ada keinginan pisah ranjang apalagi pisah tempat tinggal dengan istrinya. Tapi lantaran bau kotoran Kucing yang menyengat dirinya terpaksa memilih pindah rumah.

“Selalu bau tai kucing. Sampai dekat meja makan dipojok pintu ada tempat pasir, untuk berak kucing. Siapa yang engak emosi, saat saya mau tidur baunya ke kamar, eh tahu-tahu percis dibelakang kepala bawah bantal, diatas kasur itu tai kucing yang Persia. Terpaksa saya adu mulut sama istri,” aku Diran.

BACA JUGA:   Bagian Ke 2 : Catatan Perjalanan Wabup Ahmadi Riansyah Berdialog dengan Nelayan

Meski demikian, Diran tetap memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga dengan memberi nafkah sang istri, meski harus berpisah rumah.

“Melalui SMS, saya sampaikan ke istri kalau semua kucing di rumah tidak ada saya akan kembali kepangkuanmu. Sekarang sayang kucing atau suami, itu SMS saya ke istri melalui HP,” ungkap Diran.

Tak berselang lama, sang istri mengikuti perkataan Diran. ” Kata anak saya yang paling besar, kucing di rumah sudah dikasihkan istri saya ke tetangga, mendengar itu saya bersyukur. Sekarang saya sudah bisa tinggal se rumah dengan istri,” ungkap Diran sambil mengangkat joran karena umpan pancingnya disamber Ikan Patin.

Penulis : Maman Wiharja, Wartawan Beritasampit.co.id berdomisili di Kota Pangkalan Bun.