Jelang Tahun Ajaran Baru, Omzet Pedagang dan Penjahit Seragam Sekolah Anjlok

PENJAHIT : JUN/BERITA SAMPIT - Penjahit seragam sekolah yang omzetnya anjlok selama pandemi Cavid-19.

SAMPIT – Pemberlakuan belajar di rumah imbas dari pandemi Covid-19 cukup mempengaruhi keberlangsungan usaha menjahit dan penjualan seragam sekolah. Penurunan omzet menjelang tahun ajaran baru bahkan sudah dirasakan sejak awal pandemi tahun lalu.

Demikian yang dirasakan beberapa penjahit dan penjual seragam sekolah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Jika sebelum terjadinya pandemi Covid-19 omzet penjahit maupun penjual seragam sekolah bisa berlipat hingga 200 persen lebih saat tahun ajaran baru, namun saat ini anjlok hingga 95 persen. Bahkan sebagian dari mereka harus merumahkan karyawannya.

“Ya mau apa lagi, nggak ada yang dikerjakan. Sebagian penjahit banyak yang nganggur dan mencari kerjaan lain,” cerita Feri, salah satu penjahit di Pasar Berdikari Sampit, Minggu 7 Maret 2021.

Dirinya belum bisa memastikan sampai kapan tenaga karyawannya kembali diperlukan.

“Biasanya sejak bulan Maret sudah ramai, bahkan saking ramainya kami harus lembur dan menambah karyawan lepas untuk membantu. Tapi sejak tahun lalu hingga menjelang tahun ajaran baru tahun ini sangat sepi,” katanya.

BACA JUGA:   OJK Kalteng Dukung Wacana Pemkab Kotim Soal LKM

Hal serupa juga dirasakan Isna (38), pengelola toko perlengkapan sekolah yang mengaku penjualannya turun drastis hingga 90 persen pada tahun ajaran baru tahun lalu.

“Biasanya mulai Maret sudah ramai. Puncaknya Juni dan Juli bahkan hingga Agustus, banyak yang mencari seragam untuk SD sampai SMA juga seragam Pramuka lengkap dengan atributnya.,” ucapnya.

Menurut dia, sebelum pandemi corona permintaan seragam sangat ramai. Bahkan dia harus menambah order pemesanan. Berbanding terbalik dengan keadaan setahun belakangan ini, dimana barang yang dijual merupakan stok tahun lalu.

Dikeluhkan, selama pandemi dalam sehari yang mampir ke tokonya hanya 1 atau 2 pelanggan, bahkan terkadang hingga 1 minggu tidak ada yang beli. Padahal, lanjutnya, momen tahun ajaran baru menjadi kesempatan dirinya dan pedagang lainnya untuk mendapat omzet berlebih.

BACA JUGA:   Perbaikan Akta Kelahiran di Kotim Dipermudah

“Sekarang aja dari pagi baru dua pelanggan yang mampir. Itupun hanya satu yang jadi beli atasannya saja (baju seragam putih),” bebernya.

Meski di beberapa sekolah telah memberlakukan sekolah tatap muka, namum dirinya mengaku hal tersebut bukan jaminan pasaran seragam sekolah menjadi ramai. Sebab sebagian mereka masih menggunakan seragam yang sudah ada.

“Mungkin kebanyakan enggan belanja seragam menunggu kepastian kapan sekolah kembali dibuka. Sekarang kan belum ada kepastian sampai kapan kebijakan belajar di rumah berakhir, ungkapnya.

Dari pantauan, beritasampit.co.id, suasana pasar yang biasanya ramai disetiap hari minggu terlihat sepi. Hanya dua pelanggan bersama putera puteri mereka yang mencoba seragam pramuka, sementara di toko lainnya beberapa karyawan penjual seragam sekolah terlihat ngobrol sembari menyusun dan merapikan tumpukan barang dagangannya. (jun/beritasampit.co.id).