Program Peremajaan Tanaman Karet Dibatalkan, Alasanya Ini

PERKEBUNAN : ARIFIN/BERITA SAMPIT - Salah satu jalan menuju ke area perkebunan masyarakat yang ada di wilayah utara, Kotim, Kalteng.

SAMPIT – Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2021 mendapatkan jatah untuk peremajaan (replanting) tanaman karet seluas 2.000 hektare. Namun, program itu diduga telah dibatalkan dengan alasan tidak ada usulan dari para petani karet.

Kepala Dinas Pertanian Kotawaingin Timur (Kotim) melalui Kabid Perkebunan Gusti Akhirin mengatakan, animo masyarakat yang mengusulkan untuk peremejaan tanaman karet sangat sedikit bahkan nyaris tidak ada.

“Minat kelompok tani yang mengusulkan replanting tanaman karet tidak ada,” ucap Akhirin saat ditemui diruang kerjanya, akhir pekan tadi.

Dia menjelaskan, replanting tanaman karet sepertinya sudah tidak ada kelanjutan dan disamping itu kemungkinan besar dana untuk program tersebut sementara dihapuskan.

BACA JUGA:   Pemkab Kotim Salurkan Bantuan dan Periksa Kesehatan Warga Korban Banjir

“Sudah dihapus, mungkin pemerintah pusat fokus untuk penanganan Covid-19,” kata Akhirin.

Menindaklanjuti surat direktur tanaman tahunan dan penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan nomor : 231/RC.230/E.4/03/2021 hal permintaan CP/CL dan data ketersediaan benih karet kegiatan peremajaan tanaman karet ABT karet tahun anggaran 2021.

Kemudian, Dinas Perkebunan Kalteng mengeluar surat pada bulan Maret 2021, perihal permintaan CP/CL kegiatan peremajaan tanaman karet ABT tahun 2021 yang ditandatangani Plt Kepala Dinas Perkebunan Kalteng Ir. H. Sri Suwanto, MS.

BACA JUGA:   Ajak Mitra Kerja Optimalkan Penggunaan Alat Kontrasepsi Untuk Pasangan Usia Subur

Bahwa dalam isi surat tersebut, Kalteng mendapat alokasi lahan seluas 2000 hektare untuk penanaman tanaman karet.

Ada beberapa kabupaten yang dapat jatah peremajaan tanaman karet itu yakni, Pulang Pisau 500 hektare, Barito Timur 500 hektare, Barito Selatan 250 hektare, Barito Utara 200 hektare, Kotawaringin Barat 250 hektare, Kotawaringin Timur 100 hektare dan Kapuas 200 hektare.

Namun, harapan para kelompok tani untuk peremajaan karet sepertinya pupus di tengah jalan karena program tersebut diduga telah dibatalkan.

(ifin/beritasampit.co.id)