Riskon: PMI Kotim Butuh Tambahan Alat Aferesis Untuk Permudah Donor Plasma Konvalesen

ILHAM/BERITA SAMPIT - Anggota DPRD Kotim dari Fraksi Golkar Riskon Febiansyah, bersama Kepala Unit Transfusi Darah PMI Kotim dr. Yuendri Irawanto, Senin 23 Agustus 2021.

SAMPIT – Unit transfusi darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih membutuhkan alat Aferesis tambahan yang berfungsi untuk menyaring darah.

Apa lagi ditengah pandemi saat ini sangat dibutuhkan donor plasma konvelesen atau sumbangan darah dari pendonor yang telah sembuh dari Covid. Dengan memiliki alat Aferesis tersebut, sangat membantu untuk ketersediaan stok darah yang dibutuhkan dan juga tahan lama.

Anggota DPRD Kotim dari Fraksi Golkar Riskon Febiansyah menyampaikan, beberapa waktu lalu ia ke PMI Kotim dan mendapatkan masukan betapa sulitnya mendapatkan pendonor plasma konvalesen.

“Kesulitan mencari pendonor ditambah lagi kekurangan alat pendukung untuk donor darah plasma konvalesen, karena saat ini PMI Sampit hanya bisa melakukan donor darah plasma secara manual,” katanya, Senin 23 Agustus 2021.

BACA JUGA:   Alami Defisit, Berikut Usulan Anggaran dari Setiap Komisi DPRD Kotim

Menurut dia, jika masih menggunakan cara manual tanpa adanya alat aferesis dan alat penyimpan darah plasma, maka darah yang di donor hanya bisa bertahan 24 jam. Tetapi jika memakai alat penyimpan darah plasma, darah yang di donor bisa disimpan selama 1 tahun.

“Jika memiliki alat aferesis jangka waktu pendonor untuk mendonor kembali bisa lebih cepat yaitu 2 minggu, berbeda jika manual yang memerlukan waktu lebih lama yaitu 2 sampai 3 bulan,” papar Riskon.

Saat ini tidak sedikit pasien Covid-19 tak bisa diselamatkan dan meninggal dunia akibat tidak mendapat donor darah plasma tepat waktu. Hal ini diperlukan perhatian dari Pemkab Kotim melalui Bupati untuk bisa memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut.

BACA JUGA:   Masyarakat Pulau Hanaut Minta Dapil III Desak Bupati Kotim Tuntaskan Soal Ini

Dikatakan Politikus Muda dari Partai Golkar tersebut, Pemda sendiri sangat lengkap memiliki data penderita Covid-19 yang sudah sembuh yang tersimpan baik di Satgas Covid-19 Kabupaten maupun Dinas Kesehatan.

Sehingga tidak sulit bagi Pemerintah untuk mengambil kebijakan mengkoordinir dan meminta keikutsertaan penyintas Covid-19 dalam hal pemenuhan stok darah plasma konvalesen.

“Saya yakin apa bila memang digerakkan oleh Pemda kekosongan stok darah tersebut bisa terpenuhi,” ujarnya.

“Karena ini menyangkut nyawa hidup pasien Covid yang memerlukan transfusi darah tersebut. Dan tentunya warga kita penyintas Covid-19 tidak akan keberatan apabila diminta andil untuk mendonorkan darahnya, karena ini lah waktunya masyarakat Kotim bisa terlibat dan berbuat untuk penanganan Covid-19,” tutup Riskon Febiansyah. (Cha/beritasampit.co.id).