Seni Bela Diri Sendeng Harus Dilestarikan Masyarakat Kotim

ILHAM/BERITA SAMPIT - Peragaan Aksi Lawang Sekepeng dengan menyuguhkan pertarungan dua pendekar yang menggunakan senjata tajam berupa mandau dan tangan kosong, dengan disaksikan tamu undangan yang hadir dalam resepsi perkawinan di Kecamatan Kota Besi. Minggu 17 Oktober 2021.

SAMPIT – Ketertarikan generasi muda terhadap budaya harus terus di dorong, terlebih nilai-nilai luhur yang ada dalam budaya itu sendiri. Seperti kesenian bela diri yang ada di Kalimantan Tengah.

Kutau, Bangkui dan Sendeng merupakan Kesenian Bela Diri warisan dari leluhur dayak Kalimantan Tengah, memang seharusnya dilestarikan.

Bukan hanya memperagakan seni pertarungan tangan kosong, namun juga bela diri tradisional ini melengkapinya dengan seni pertarungan menggunakan senjata, salah satunya mandau yang merupakan senjata tradisional suku dayak Kalimantan.

Seperti yang dilakukan Perguruan Pencak silat sendeng 12 bangkuy salam Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur ini, yang mana mampu mempertahankan dan kini terus berkembang dengan membina para generasi muda untuk lebih mengenal bela diri tradisional tersebut.

BACA JUGA:   Polres Kotim Musnahkan Sabu-Sabu Senilai 49 Juta, Hasil Tangkapan di Bulan November

Jufri salah seorang pelatih perguruan pencak silat sendeng 12 Bangkuy Salam menungkapkan, saat ini jumlah murid yang dibawah binaannya terus bertambah, bukan hanya di wilayah Kota Besi namun juga sudah meluas di Kecamatan Cempaga.

“Sejak didirikan pada tanggal 11 Bulan 11 tahun 2011 hingga saat ini, Perguruan sendeng 12 ini sudah hampir di seluruh Kecamatan ada,” katanya.

Sebagai seorang pesilat yang cinta akan seni budaya daerah, tentunya mengenalkan seni bela diri ini menjadi kewajiban baginya, agar terus berkembang dan menumbuhkan penerus-penerus baru dari generasi muda mencintai kesenian bela diri dari leluhur tersebut.

BACA JUGA:   Persiapan Proprov, Dispora Kotim Usulkan Anggaran Rp41 Miliar

Silat tradisional dayak ini menurut Jefri sangat jarang sekali dikenal masyarakat, sebagian besar masyarakat hanya bisa lihat aksinya ketika ada acara pernikahan maupun penyambutan tamu kehormatan secara adat, seperti lawang sekepeng.

“Saya sangat bangga, karena sebagian besar yang bergabung dan ingin mendalami ilmu bela diri dayak trandisional ini adalah para generasi muda. Saya optimis, dengan terus berkembang dan dikenal masyarakat, kesenian bela diri ini akan bisa bertahan dan terus melebarkan sayapnya bukan hanya di Sampit. Namun keseluruh Kalimantan Tengah,”tandasnya.

(Cha/bertasampit.co.id)