Pilpres 2024 PDIP Terancam Terbelah dan 3 Calon Kuat

Muhammad Gumarang, Pengamat Sosial Politik dan Kebijakan Publik.(ft.pri)

Oleh: Muhammad Gumarang

Pemilu serentak 2024 masih tiga tahun lagi, tapi syahwat politik bagi peminat calon presiden merupakan waktu yang relatif singkat dalam mempersiapkan diri, khusus dalam membangun maupun meningkatkan elektibilitas di masyarakat.

Mereka berupaya mencuri start dalam segala kesempatan atau berupaya mencuri perhatian publik, khususnya yang memiliki jabatan baik di eksekutif maupun di legeslatif, dengan upaya memperlihatkan kinerjanya masing masing sebagai nilai jual yang efektif ke publik.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP) yang merupakan partai pemenang pemilu lalu atau partai Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), memiliki pengaruh besar sebagai kompetitor kuat bagi partai lainnya dalam persaingan mengusung calon Presiden 2024.

Memenuhi syarat Presiden threshold 20% tidaklah sulit bagi PDIP karena yang menjadi acuan adalah suara Pemilu tahun 2019, dimana pada Pemilu tersebut PDIP meraih  19,33% atau sebagai pemenang Pemilu 2019.

Wajar, jika PDIP merasa lebih percaya diri dalam hal kesiapan maupun kenyakinan untuk menang. Sementara partai lain akan kesulitan dan disibukan dengan tarik menarik mencari pasangan koalisi untuk memenuhi syarat Presiden threshold 20%, karena semua partai selain PDIP perolehan suara Pemilu 2024 dibawah 13%. Inilah yang menguntungkan bagi partai besar apalagi sebagai partai pemenang pada pemilu sebelumnya (2019) yang hampir mencapai 20% perolehan suara yang dicapai PDIP. Karena itu partai-partai besar sepakat PILPRES 2024 serentak dengan Pemilu Legeslatif, sehingga mengunci calon-calon dari partai kecil tidak bisa mengajukan calon.

Begitu besarnya medan magnet politik PDIP di Pilpres 2024 sehingga menimbulkan polemik di internal PDIP sendiri dan rawan membawa perpecahan, yaitu adanya gerakan kuat arus bawah menginginkan Capres PDIP 2024 adalah Ganjar Pranowo. Sedangkan isu yg berkembang di tubuh elit PDIP bahwa anak Ketua Umum Megawati yaitu Puan Maharani menjadi calon kuat yang akan dipasangkan dengan Prabowo Subianto.

Namun yang jadi pertanyaan maukah PDIP atau Puan Maharani jadi orang nomor 2 atau Wakil Prabowo Subianto dan/atau harus mencari pasangan lain yang bisa dijadikan Wakil Puan Maharani, ini yang nantinya menjadi permasalahan atau sisi kelemahan PDIP, karena figur Puan Maharani dinilai masih bergantung mesin partai.

Oleh karena itu, keraguan tersebut wajar jika Puan Maharani hanya di posisikan orang nomor dua, bahkan mengutip dari istilah elit PDIP Bambang Wuryanto apapun makanannya minumannya teh sosro, dalam hal ini Puan Maharani di ibaratkannya teh sosro atau calon Wapres, tapi tampak pernyataan tersebut dinamis.

Tapi bagaimanapun PDIP, kalkulasi politiknya Prabowo Subianto memiliki infrastruktur politik yang kuat dengan Partai GERINDRA hasil besutannya dan juga kemampuan infrastruktur lainnya, seperti financial, militer, dan pengalaman politik.

Sementara dukungan terhadap Ganjar Pranowo semakin hangat. Bahkan Ketua DPD PDIP Provinsi Jawa Tengah, Bambang Wuryanto, meledek  proses dukungan yang ia ibaratkan dukungan Celeng (babi hutan), karena dianggap keluar dari barisan Banteng. Hal tersebut ditujukan kepada Albertus Sumbogo ketua DPC PDIP  Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah sebagai pihak yang memberi dukungan terhadap Ganjar Pranowo, bahkan deklarasi  dukungan terhadap Ganjar Pranowo semakin bermunculan termasuk dukungan dari tim sukses mania Jokowi.

BACA JUGA:   Ada “Pembiaran”, Sudah Saatnya Menteri BUMN Mengusut Tuntas Kasus PTPN XIII

Rencana pusat deklarasi dukungan terhadap Ganjar Pranowo akan dilaksanakan di Jawa Timur oleh tim pendukungnya. Kalau ini nantinya sukses, jelas akan mudah merambah ke daerah lain di luar pulau jawa dan ini merupakan ancaman serius perpecahan PDIP dan bisa menjadikan Ganjar Pranowo memiliki nilai tawar besar di luar PDIP, apa lagi dipengaruhi oleh bekas tim sukses Jokowi mendukung Ganjar Pranowo suatu hal yang tidak bisa di anggap enteng oleh PDIP.

Bagaimana melihat kekuatan diluar PDIP yang semakin mengkristal, yaitu kekuatan yang identik dengan kekuatan Islam melekat pada figur Anies Baswedan dan tidak mungkin bisa menyatu dengan PDIP, karena saling berseberangan sejak lama sebagamana seperti hubungan Megawati dengan Susilo Bambang Yudoyono (Partai Demokrat), disisi lain figur Anies Baswedan hanya kuat di Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Di Partai Islam lainnya selain PKS sangat diragukan dukungannya, artinya tidak linear dengan arus bawah, karena elit partai lebih berpikir pragmatis dan ego elit, karena figur Anies Baswedan kuat diarus bawah kelompok Islam. Sementara Partai Demokrat mungkin saja bisa menjalin hubungan dengan Anies Baswedan, tapi akan ada hal dilematis karena Partai Demokrat sudah menggadang gadang figur Agus Harimurti Yodoyono (AHY) sebagai calon dari Partai Demokrat sehingga menyangkut siapa Capres dan siapa Cawapres?.

Politik Anies Baswedan untuk sementara ini lebih bertumpu pada respon masyarakat terhadap figur serta kekuatan relawan dalam strategi menjual figur Anies Baswedan kepada masyarakat untuk meningkatkan elektabilitas melaluj gerakan relawan lebih dini, bahkan relawan Anies tersebut sudah melakukan deklarasi Anies Capres 2024.

Hal yang dilakukan relawan Anies dapat dipahami karena Anies  tidak memiliki partai,seperti Prabowo Subianto dan Puan Maharani, bahkan Anies di tahun 2022  kehilangan panggung karena habis masa jabatannya sebagai Gubenur DKI. Jelas akan melemahkan kekuatan Anies di public.

Oleh karena itu wajar Anies melakukan menuver politik membangun dan mengembang dukungan kekuatan public. Melalui peran dan fungsi relawan dan ke figuran Anies hal ini tak lepas perannya media ikut menentukan, sehingga gerakan tersebut bisa menjadi masif dan tersistimatis, bahkan bisa menimbulkan politik  people power. Sedangkan capres partai lain hampir diyakini kurang mempunyai peluang karena  lemahnya nilai tawar di Parpol (infrastruktur politik) dan lemahnya elektibilitas.

Sampai saat ini setidaknya ada tiga nama besar, yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo yang elektabilitas saling bersaing di papan atas dari hasil berberapa lembaga survey. Sedangkan Puan Maharani jauh nilai elektabilitas dari ke tiga besar calon kuat tersebut. Namun yang menjadikan Puan Maharani calon kuat karena putri Mahkota Ketua Umum PDIP dan Megawati sebagai pemegang mandat PDIP untuk menentukan Capres dan Cawapres 2024. Hal ini jelas Puan Maharani memiliki peluang yg absolut capres atau cawapres PDIP 2024,  tentu dengan mengabaikan hasil elektabilitas atau melalui pendekatan kekuatan mesin partai dan ditambah kekuatan dari pasangan Puan Maharani.

BACA JUGA:   Spirit Sumpah Pemuda Hadapi Tantangan Zaman

Apabila Prabowo Subianto berpasangan dengan Puan Maharani, maka dapat dipastikan Ganjar Pranowo akan tereliminasi sebagai capres ataupun cawapres  dari PDIP, namun jika arus bawah PDIP maupun masyarakat umum semakin kuat memberikan dukungan pada Ganjar Pranowo sehingga elektabiltas semakin naik, jelas akan menjadi rebutan partai diluar PDIP seperti Pilpres dimasa pencalon SBY yang menggaet wakilnya dari elit tokoh partai Golkar yaitu Jusuf Kala (JK) dan mereka sukses menang telak pada saat itu.

Bagaimana dengan figur Anies Baswedan calon kuat yang identik dengan kekuatan kelompok Islam dengan suara pemilih mayoritas yaitu 80% lebih? Mampukah Partai Islam memberikan karpet merah untuk Anies Baswedan?.

Ini permasalahan yang akan dihadapi Anies Baswedan karena kemaun arus bawah tidak linear dengan elit politik partai Islam diluar PKS, karena Partai Islam selain PKS lebih berpikir pragmatis dan ego saling menjatuhkan, tidak ada kesamaan membangun figur pemimpin muslim khususnya dari partai Islam, sehingga menjadi obyek pelengkap kekuatan partai lain dalam pemerintahan khusus partai berbasis Nasionalis yang selalu jadi pemenang dalam Pemilu selama ini.

Nasib Anies Baswedan dalam Pilpres 2024 sangat ditentukan oleh Partai Islam dan termasuk Partai Demokrat, karena partai lain hampir tidak ada chemistry politik ini harus menjadi pekerjaan rumah atau perhatian khususnya bagi elit Partai islam, karena kalau tidak partai Islam hanya menjadi obyek pelengkap bagi partai pemenang yg selalu dimenangkan oleh partai berazas nasionalis. Partai Islam di ibaratkan pasukan besar namun tak punya garis komando yg jelas, sehingga mudah tercerai berai dalam pertempuran. Tapi bila mana elit Partai Islam melakukan rekonsiliasi,  konsolidasi Nasional  dan  pengkaderan bersama untuk kepemimpinan Nasional, maka saya yakin akan keluar sebagai pemenang, kalau tidak nasibnya tak jauh dengan masa masa lalu dan  sekarang ini.

Kalau Prabowo jelas akan lebih mulus dalam proses pencalonan baik berpasangan dengan Puan Maharani maupun dengan siapapun saja karena memiliki infrastruktur politik yang siap dan sangat mendukung. Dalam  pertandingan saya ibaratkan Prabowo Subianto dan Puan Maharani dalam  posisi standby, namun untuk meraih kemenangan sangat berat mengahadapi Anies Baswedan atau Ganjar Pranowo kalau ke dua tokoh ini berhasil mendapatkan  perahu atau tiket mengikuti Pilpres 2024 nanti.***

(Penulis : Pengamat Sosial Politik)