Peningkatan Kualitas SDM Dimulai Dari Kesehatan Generasi Muda

Ilustrasi. (Pexels)

JAKARTA – Direktorat Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengatakan, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) bisa dimulai dengan membangun kesehatan generasi muda.

Woro, dalam seminar daring pada Selasa 7 Desember 2021, melanjutkan, salah satu cara untuk mengupayakan kesehatan generasi mendatang adalah dengan aktif mensosialisasikan kesadaran pola makan dan hidup sehat sejak dini.

“Kampanye ini menjadi penegas komitmen kita untuk terus meningkatkan kesadaran pola makan sehat dan seimbang di kalangan remaja Indonesia melalui GERMAS hidup sehat,” kata Woro.

Lebih lanjut, Woro mengatakan Indonesia memiliki potensi besar melalui bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2030. Menurut Bappenas, pada tahun tersebut jumlah usia produktif yang dimaksud bisa mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk sekitar 297 juta jiwa.

BACA JUGA:   Harga Domain .id Naik Mulai April 2022

“Ini adalah potensi luar biasa untuk generasi milenial dan generasi Z untuk bertumbuh secara berkualitas dan mengisi pembangunan. Penting untuk kita memastikan bahwa mereka terpenuhi kebutuhannya, termasuk kesehatan dan gizinya,” ujar dia.

“Kalau kita bisa membuat mereka menjadi kelompok yang berkualitas, tangguh dan miliki ketahanan, mereka bisa menjadi potensi penggerak pembangunan. Namun, bisa juga menjadi penghambat jika kelompok muda ini tidak ada keterampilan yang memadai,” imbuhnya.

Sehingga, lanjut Woro, penting bagi pemerintah dan pihak lainnya termasuk orang tua untuk secara kolektif membangun kualitas remaja dan pemuda melalui pola hidup dan makan sehat, guna menciptakan SDM unggul dan menjadi penggerak pembangunan di masa depan.

BACA JUGA:   Suka Konsumsi Minuman Bersoda Setiap Hari? Ini Dampaknya Pada Tubuh

Woro mengatakan, upaya ini harus dilakukan secara holistik dan berkesinambungan.

“Upaya-upaya kita harus dilakukan secara komperhensif. Kita juga harus memastikan anak memiliki kemampuan kapasitas yang memadai untuk mengikuti pola hidup sehat. Upaya mendorong gizi seimbang ini diharapkan untuk mendorong kualitas mereka pula,” kata Woro.

“Selanjutnya, peningkatan pemahaman keluarga pun juga perlu dibarengi dengan penguatan kapasitas anak dan remaja mengenai gizi seimbang. Orang tua juga perlu menguatkan partisipasi anak,” imbuhnya.

(Antara)