Deklarasi Gerakan Kalteng Baru, Ini Poin-poin yang Dibahas

Editor : Maulana Kawit

PALANGKA RAYA – Sebuah perkumpulan yang dihadiri hampir ratusan orang mendeklarasikan diri dengan nama Gerakan Kalteng baru.

Iwan Obo salah satu pencetus gerakan Kalteng Baru mengungkapkan gerakan ini merupakan bentuk aspirasi masyarakat Kalteng.

“Sudah saatnya Kalimantan Tengah memiliki pemimpin yang meningkatkan talenta-talenta unggul putra daerah yang bersedia melayani, rendah hati, bekerja untuk semua golongan,” ujar pencetus Gerakan Deklarasi Kalteng Baru Iwan Obo.

Menurutnya, gerakan ini muncul berawal dari kegelisahan-kegelisahan yang ada, aspirasi ini memuncak kepada suatu gerakan yang diviralkan dengan hastag Kalteng Baru.

Deklarasi ini digelar pada sore pukul 16.00 Wib bertempat di cafe Meine Welt, jalan RTA Milono Simpang jalan Tampei, Kota Palangka Raya.

BACA JUGA:   Indeks Pembangunan Pemuda Kalteng di Bawah Rata-Rata

Berlbagai kalangan hadir mendukung dan mengapresiasi Deklarasi Kalteng Baru ini. Kurang lebih seratusan orang hadir. Aktivis mahasiswa, pemuda daerah, budayawan, tokoh politik, dan birokrat. Semua melebur pada satu nuansa.

Rusdi yang juga politikus NasDem juga mengapresiasi Deklarasi ini. Ia menuturkan perlu adanya sosialisasi Pilkada serentak dengan melibatkan milenial, ia menilai partisipasi politik adanya penurunan.

Rusdi juga berbicara poin-poin yang perlu diperhatikan dalam konteks Kalteng. Ia menyinggung isu birokrasi, ekonomi, SDM dan ekonomi kreatif yang perlu menjadi catatan untuk pemimpin Kalteng selanjutnya.

BACA JUGA:   Mahasiswa Heboh akibat Pertanyaan dari Bupati Sukamara, Soal Ini Bisa Jawab?

“Bahwa tidak hanya pendidikan formal tapi informal yang perlu ditingkatkan untuk menggapai SDM yang unggul di Kalteng,” pungkasnya.

Selain itu Pemuda yang fokus pada gerakan SDM ini mengungkapkan, “Sebelum menentukan sosok pemimpin, mari diurai masalah-masalah di Kalteng ini,” tuturnya.

Ditempat yang sama aktivis mahasiswa Novia Adventy yang juga mantan ketua GMKI Palangka Raya memaparkan isu stunting yang tinggi di Kalteng.

“Peningkatan SDM khususnya pemuda yang rendah dan pernikahan dini yang masih marak, negara harus hadir dalam sektor genting keperempuanan,” bebernya.

(Gby/beritasampit.co.id)