Tsai Ing-wen Anti Cina Kembali Dijagokan di Pemilu Taiwan 2020

Tsai Ing-wen

Beritasampit.co.id – Taiwan kembali menunjukkan kepada dunia perihal demokrasi dan kebebasan yang mereka terapkan. Sekaligus menghadirkan fakta sebagai negara yang berdaulat dan merdeka melalui pemilihan umum yang akan mereka selenggarakan sekali lagi pada 11 Januari 2020 kemaren. Hampir 20 juta warga Taiwan terdaftar untuk ikut mencoblos.

Tiga calon presiden yang bersaing adalah calon presiden petahana Tsai Ing-wen (Partai Progresif Demokrat), Han Kuo-Yu (Partai Kuomintang), serta James Soong (Partai Rakyat Utama). Tsai Ing-wen dijagokan kembali terpilih di periode kedua. Saat kampanye, ia memakai retorika ancaman pengaruh China. Partai Progresif Demokrat terkenal resisten terhadap pengaruh China ke Taiwan.

Hasil pemilu Taiwan akan diumumkan pada pukul 22.00 malam waktu setempat atau pukul 21.00 waktu Indonesia.

Para capres dan cawapres pemilu Taiwan 2020 adalah wajah-wajah lama.

Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokrat merupakan presiden petahana. Wakilnya William Lai adalah Premier Taiwan periode 2017-2019 serta mantan Wali Kota Tainan.

Han Kuo-Yu dari Partai Kuomintang juga bukan politikus sembarangan. Pada 2018, ia menang besar pada pemilu Wali Kota dari Kaohsiung, bahkan ia berhasil unggul dari miliarder Terry Gou pada pemilihan kandidat presiden Partai Kuomintang.

BACA JUGA:   Cegah Panik, Ketua MPR: Sosialisasikan Kemampuan Negara Tangkal Virus Corona

Cawapres dari Kuomintang Chang San-cheng, mantan Premier Taiwan di 2016, serta pernah menjadi Menteri Sains dan Teknologi.

Terakhir, James Soong dari Partai Rakyat Utama adalah mantan Gubernur Taiwan periode 1994-1998. Cawapresnya, Sandra Yu, adalah mantan pemimpin firma iklan United Communications Group.

Siapa Tsai Ing-wen ?

Dirangkum dari bergai sumber, Tsai Ing-wen, merupakan Presiden Taiwan yang maju kembali sebagai petahana dalam pemilihan presiden 2020. Dia adalah presiden perempuan pertama di negara itu dan menjadi simbol perlawanan terhadap China.

Tsai lahir pada 31 Agustus 1956. Dia besar di daerah Zhongshan. Setelah menimba ilmu di sekolah khusus perempuan, Tsai lantas melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Nasional Taiwan. Setelah lulus menjadi advokat, dia meneruskan studi hukum ke Universitas Cornell, Amerika Serikat dan meraih gelar master.

Tsai juga meneruskan studi strata-3 ke Sekolah Ekonomi dan Politik London.

Tsai berasal dari keluarga pengusaha kelas menengah. Ayahnya mempunyai usaha transportasi dan perbaikan kendaraan.
Sang ayah dianggap mewariskan perangai keras, disiplin dan cerdas kepada Tsai. Dia juga dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia.
Sebelum terjun ke politik, Tsai lebih dulu menjadi wirausaha. Dia memiliki jaringan restoran Ing-wen the Hungry, tim sepakbola Angels of Taipei, dan meluncurkan merek minuman keras vodka Pure Wondertsai.

BACA JUGA:   Panwascam "Turun Gunung" ke Desa-Desa, Ada apa?

Selain itu, Tsai juga mempunyai bisnis parfum From Ing-wen with Love dan koleksi busana Tsai Ing-wen Seduction. Keuntungan dari usahanya yang diperkirakan mencapai 245 juta Dollar Taiwan ditanamkan dalam bursa saham, properti dan merek kosmetik CoverGirl.

Tsai juga dikenal menolak klaim yang menyatakan Taiwan adalah bagian dari China. Karena kecakapan dan keilmuannya, Tsai akhirnya terjun ke dunia politik bergabung dengan Partai Demokratik Progresif (DPP). Dia berhadapan dengan Partai Nasionalis Kuomintang (KNP). Pada 2016, Tsai bersaing dengan unggulan KNP, Enric Chu. Hasilnya, dia menang mutlak dengan perolehan 60 persen suara.

Sejak masa kepemimpinannya, hubungan Taiwan dengan China tidak pernah rukun dan justru merapat kepada Amerika Serikat. Dia memberi contoh Hong Kong yang saat ini bergolak yang dianggap sebagai reaksi atas pemerintah China yang otoriter, sejak penyerahan kedaulatan dari Inggris pada 1 Julir 1997.

Kini, jika dia kembali menang, maka dikhawatirkan akan menyulitkan upaya Presiden China, Xi Jinping, untuk mewujudkan visi ‘Satu China’, salah satunya dengan menyatukan Taiwan.

(Kawit/Beritasampit.co.id)