Kisah Generasi Keempat Pengrajin Rotan

HARDI/BERITA SAMPIT - Niang saat membuat tas rotan.

PALANGKA RAYA – Niang merupakan generasi keempat pengrajin rotan dalam keluarganya di Provinsi Kalimantan Tengah. Pada Selasa 1 Desember 2020, di tempat kerjanya jalan RTA Milono Km 8 Perum Kereng Indah Permai II Palangka Raya, Niang menceritakan pengalamannya mengenai bisnisnya.

Bisnis kerajinan rotan ini sudah ditekuni dia sejak masih kecil. Untuk menganyam, katanya, dari kecil sudah bisa, karena basic di keluarganya itu memang menganyam rotan dari datuk, nenek, ibu hingga dia sendiri.

“Karena memang penghasilan kami ini dari menganyam ini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada awal menganyam ini niat saya hanya ingin bantu orang tua, dan saya menganyam ini belajar secara otodidak tanpa belajar dari siapapun,” kata Niang.

Niang sebenarnya berasal dari Kelurahan Dahirang, Kabupaten Kapuas. Dahulu di Kelurahan Dahirang itu terkenal dengan anyamannya, karena seiring waktu generasi muda di kelurahan tersebut enggan untuk meneruskan tradisi menganyam, sehingga Niang berharap tradisi untuk menganyam ini jangan sampai pudar.

BACA JUGA:   Gelar Muskom, KMHDI UPR Terus Berbenah Lahirkan Pemimpin Berkualitas dan Berintegritas
HARDI/BERITA SAMPIT – Niang saat memperlihatkan hasil karyanya.

Lebih lanjut, dikatakan Niang bahwa untuk awal-awal pandemi dirinya memang merasakan dampaknya, tapi dengan seiring waktu itu sudah biasa dan juga membawa hikmah tersendiri bagi dirinya.

“Oleh karena itu kita bisa melakukan inovasi baru seperti membuat masker kain yang dipadukan dengan anyaman rotan, yang dimana peminat masker tersebut lumayan bagus. Selain itu dimasa pandemi ini dalam melakukan penjualan kita melakukannya secara online dan juga dibantu oleh reseller yang ada di Kabupaten dan Kota yang ada di Kalimantan Tengah,” katanya.

BACA JUGA:   Lurah Menteng Salurkan BLT Tahap III Kepada 713 Warga

Menurut Niang pada musim pandemi ini kuncinya ialah harus selalu bersabar, tetap berkarya dan berinovasi. Meskipun saat ini dalam situasi pandemi tidak mengurangi pelanggan untuk membeli.

Seperti halnya masker dari anyaman yang sudah terjual selama sebulan itu sekitar 1000 buah dan untuk tas kulit yang sudah dikombinasikan dengan rotan sekitar 50 buah.

Selain masker dan tas, Niang juga memproduksi gantungan kunci, dompet, dan sendal. Waktu produksi seperti masker itu dalam sehari mampu membuat 30 buah, untuk tas kulit yang dikombinasikan dengan rotan itu sekitar tiga sampai lima tas dan untuk tas rotan biasa sekitar 10 buah. (Hardi/beritasampit.co.id).