Jaga Kesucian Ramadan Dengan Menjunjung Tinggi Toleransi

Diskusi Empat Pilar MPR RI di Media Center Parlemen Senayan Jakarta, Senin, (12/4/2021).

JAKARTA– Anggota MPR Fraksi PKS Bukhori Yusuf mengatakan bahwa bulan suci Ramadan 1442 Hijriah akan segera hadir. Di bulan itu, seluruh umat Islam Indonesia melaksanakan ibadah puasa dari mulai terbit matahari hingga terbenam.

“Ritual ibadah selama satu bulan penuh itu sangat dimuliakan oleh seluruh umat Islam, untuk itu sangat dibutuhkan toleransi yang tinggi dari seluruh rakyat Indonesia,” ujar Yusuf saat hadir secara virtual dalam acara Diskusi Empat Pilar MPR RI di Media Center Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, (12/4/2021).

Dialog dengan tema ‘Menjaga Toleransi di Bulan Suci Ramadan’ kerjasama Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR RI dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen itu dihadiri Peneliti dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Okky Tirto.

Toleransi yang dimaksud adalah saling menghormati selama bulan suci berlangsung, baik yang menjalankan ibadah puasa atau yang tidak berpuasa, karena perbedaan agama atau umat Islam memang ada halangan yang diperkenankan syariat, mesti bersama-sama menjaga sikap di ruang publik.

“Ketika toleransi itu terbangun, maka akan menjadi satu perilaku kolektif yang baik sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara akan berjalan nyaman, damai. Perbedaan yang ada menjadi sesuatu yang tidak lagi menjadi sumber pertentangan,” ujar Yusuf.

BACA JUGA:   HUT Ke-2 Partai Gelora Indonesia Angkat Tema Kolaborasi Menuju 5 Besar Dunia

Untuk membangun toleransi seperti itu, beber dia, masyarakat Indonesia mesti menjadikan tradisi, keadaban, dan etika menjadi sebuah standar hubungan antar sesama manusia Indonesia.

“Jika berhasil maka, akan muncul kehidupan bermasyarakat yang saling memahami,” imbuh Yusuf.

Yusuf mengatakan negara sendiri sangat tegas terhadap persoalan penghormatan kepada pemeluk agama Islam dan agama lainnya, serta menjamin kebebasan beragama tanpa gangguan, yakni melalui UUD NRI Tahun 1945 Pasal 29 ayat 1.

“Itu jelas memposisikan agama sebagai satu dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak bisa dipertentangkan lagi dan ayat kedua, negara menjamin tiap penduduk bebas menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya,” tandas Yusuf.

Okky Tirto mengatakan bahwa soal toleransi, bangsa Indonesia sudah matang dipanggang sejarah. Artinya, toleransi adalah nyawanya rakyat Indonesia sejak dulu hingga kini. Sebab, walaupun berbeda-berbeda suku, budaya dan lainnya, saling menghormati selalu ada dalam tradisi.

BACA JUGA:   Diperlukan Pemantapan Wawasan Kebangsaan Hadapi Perkembangan Zaman

Contohnya, suku Abui yang biasa juga disebut juga suku Barawahing, Barue atau Namatalaki merupakan suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Suku ini memiliki satu semboyan yang sangat terkenal yakni ‘Tara Miti Tomi Nuku’ artinya, meskipun berbeda tapi satu dalam hati.

“Lalu ada Pela Gandong di Maluku, dan masih banyak lagi suku yang memiliki semboyan persatuan. Luar biasa dewasanya mereka dalam menghadapi perbedaan,” imbuh Okky.

Intinya, menurut Okky, rakyat Indonesia sudah sangat memahami bagaimana menyikapi perbedaan yang ada bahkan perbedaan agama saat bulan ramadan tiba.

“Sikap mereka biasa saja, tidak ada yang perlu diributkan. Saya rasa toleransi sudah menjadi bibit di negara Indonesia. Kita hanya dituntut untuk selalu menyiramnya dan menjaganya, sehingga terus tumbuh kuat sehingga bisa bertahan dari segala gangguan, pungkas Okky Tirto.

(dis/beritasampit.co.id)