Kurangi Ketergantungan Impor, BRIN Kembangkan Mi Berbahan Lokal

Pekerja menyelesaikan pembuatan mi di Curug, Gunung Sindur, Bogor, Rabu (23/2/2022). . ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)

JAKARTA – Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sumber pangan alternatif mi berbahan lokal untuk mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan pangan lokal di Indonesia.

“Penelitian pangan lokal terus dikembangkan hingga diversifikasi produk pangan tercapai. Hal ini untuk meningkatkan nilai gizi dan ekonomis pangan, serta sebagai upaya untuk mengurangi impor gandum,” kata Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari dalam keterangan yang diakses ANTARA di Jakarta, Senin 27 Juni 2022.

Puji menuturkan peneliti PRTPP BRIN terus mengeksplorasi bahan baku mi non-gandum dari sumber bahan pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada bahan impor yakni gandum.

Beberapa potensi bahan baku mi yang telah dikembangkan oleh para peneliti di BRIN adalah mi dari jagung, sagu, dan mocaf.

BACA JUGA:   Presiden Jokowi Djadwalkan Jadi Inspektur Upacara HUT Ke-76 Bhayangkara

Peneliti teknologi pangan fungsional nabati PRTPP BRIN R Cecep Erwan mengatakan mi dari bahan baku gandum memiliki kandungan gluten yang membuat teksturnya elastis, sehingga dapat diterima oleh konsumen pasar.

Oleh karena itu, ia mengatakan tantangannya adalah harus mampu membuat bahan baku mi dari bahan lokal, yang dapat diterima oleh konsumen di pasar.

BRIN telah melakukan riset pemanfaatan bahan baku lokal seperti umbi-umbian sebagai pengganti gandum, salah satunya adalah umbi suweg yang diolah menjadi pati suweg dengan teknik modifikasi Heat Moisture Treatment (HMT).

Teknik tersebut merupakan suatu metode modifikasi pati secara fisik dengan cara memberikan perlakuan panas pada suhu di atas suhu gelatinisasi (80-120 derajat Celsius) dengan kondisi kadar air terbatas atau di bawah 35 persen.

“Pati suweg ini diolah dengan teknik modifikasi HMT agar dapat mengubah sifat psikokimia, sifat fungsional, dan karakteristik pasta pati suweg sebagai bahan baku pembuatan mi,” ujar Cecep.

BACA JUGA:   Ba'asyir Tegaskan Keselarasan Agama dan Pancasila Disambut Baik

Selain itu, peneliti PRTPP BRIN Alit Pangestu mengembangkan mi dari bahan baku sagu. Terdapat 5,5 juta hektare lahan sagu di Indonesia, sehingga Indonesia sangat berpotensi dalam menghasilkan produk mi dari sagu.

“Nilai plus dari sagu ialah memiliki karakter yang mirip dengan tepung terigu, bebas gluten, sehingga lebih sehat dan bergizi,” ujarnya.

Alit mengatakan hasil riset sagu menjadi mi itu telah dihilirisasi oleh dunia industri dengan munculnya produk Sago Mee, yang menjadi mi instan sagu pertama di Indonesia yang dijual di pasaran. (Antara/beritasampit.co.id).

(Visited 1 times, 1 visits today)