Pemahaman Teologis Kristen Mengenai Persekutuan

Rapco Tarigan.

Oleh : Rapco Tarigan

Virus Corona atau Covid-19 yang ditetapkan oleh World Health Organization membuat beberapa institusi di negara mengambil kebijakan  Work From Home (bekerja dari rumah). Senada dengan hal tersebut, beberapa gereja sebagai institusi keagamaan juga mengambil kebijakan untuk mengadakan ibadah dari rumah dengan live streaming dari youtube channel.

800

Namun demikian, ada juga beberapa gereja yang tetap melakukan ibadah di gedung gereja dengan alasan bahwa gereja adalah persekutuan, yang berarti jika bersekutu artinya bersama-sama berkumpul di dalam satu tempat ibadah, sehingga bagi mereka yang tetap melaksanakan ibadah di gedung gereja menganggap bahwa ibadah melalui live streaming menghilangkan hakekat gereja sebagai persekutuan.

Dengan alasan tersebut, saya berusaha untuk mencari pemahaman teologis mengenai persekutuan. Apakah kemudian makna persekutuan hanya sekadar bertemu dan berkumpul?

Gereja sebagai Koinonia atau Persekutuan dari banyaknya sumber-sumber mengenai persekutuan atau koinonia di dalam Alkitab, teks 1 Petrus 2:9 merupakan salah satu teks yang paling sering digunakan. Ayat tersebut merupakan gambaran gereja sebagai persekutuan beriman kepada Yesus Kristus yang dibawa keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib untuk memberitakan kebenaran Firman Allah.

Dengan demikian, seseorang yang beriman kepada Yesus Kristus, ia dipanggil untuk masuk ke dalam sebuah persekutuan atau koinonia. Kata koinonia (bhs. Yunani: κοινωνία) sendiri sangat banyak maknanya. Bentuk dasar verbal dari kata benda koinonia berarti: memiliki sesuatu secara bersama-sama, berbagi, berpartisipasi, mengambil bagian di dalam, bertindak bersama-sama, atau berada dalam hubungan kontrak yang melibatkan kewajiban akuntabilitas yang timbal balik.

BACA JUGA:   Memaknai Hari Kartini Ditengah Pandemi

Gambaran Alkitab tentang kawanan domba Allah (Yoh. 10:16), pohon  anggur yang benar (Yes. 5; Yoh. 15), mempelai Kristus (Why. 21:2; Ef. 5:25-32), rumah Allah (Ibr. 3:1-6), perjanjian yang baru (Ibr. 8:8-13), dan kota suci, kota Jerusalem yang baru (Why. 21:2) adalah gambaran tentang hakikat dan kualitas relasi antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan, yang bersatu di dalam sebuah koinonia (WCC 2005, 9). Dari gambaran metaforis kata koinonia tersebut, koinonia adalah sebuah persekutuan di mana masing-masing pihak saling berelasi dengan pihak yang lain, saling melengkapi dan mencapai tujuan bersama.

Melalui definisi di atas, sebenarnya tidak ada masalah jika melakukan ibadah melalui live streaming.

Dengan ibadah live streaming¸ umat juga bisa berpartisipasi dalam ibadah, umat juga bertindak bersama-sama di dalam ibadah live streaming seperti mendengarkan khotbah, berdoa, dan lain sebagainya. Hal yang terpenting adalah pusat dari persekutuan tersebut di dalam Yesus Kristus. Oleh karena Yesus adalah pusat gereja, persekutuan itu berkumpul di dalam nama Yesus, yang tertuang dalam Matius 18:20, “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Teks ini tidak menekankan tempat penyelenggaraan ibadah, melainkan teks ini menekankan kehadiran Kristus dalam persekutuan jika persekutuan tersebut didasari akan nama Yesus. Menurut saya, ibadah live streaming tidak menjadi masalah, karena umat tetap bersekutu di dalam nama Yesus.

BACA JUGA:   Kalau Pandemi Virus Corona Tidak Berahkir, Mau Dibawa Kemana Kita?

Sebagai sebuah persekutuan yang didirikan secara ilahi, Gereja adalah milik Allah dan tidak hadir untuk dirinya sendiri. Secara hakiki ia bersifat misional, dipanggil dan diutus untuk mempersaksikan di dalam kehidupannya sendiri persekutuan yang Allah kehendaki bagi seluruh umat manusia dan bagi seluruh ciptaan di dalam kerajaan Allah (WCC 2013, 10). Senada dengan hal tersebut, nyanyian Kidung Jemaat no. 257 juga mengatakan, “Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, Gereja adalah orangnya.” Dengan demikian, yang terpenting dari gereja adalah orangnya, bukan tempat penyelenggaraannya, sehingga ibadah live streaming tidak menjadi masalah dan tidak kehilangan esensi akan persekutuan tersebut.

Dengan pemaparan di atas, dapat kita ketahui bahwasannya makna persekutuan tidak boleh dipersempit. Ibadah live streaming tetap melaksakan identitas persekutuan sebagai gereja yang mengimani akan Yesus Kristus. Dengan pandemi ini, justru dengan melakukan ibadah live streaming tidak menghilangkan makna teologis akan persekutuan umat Allah yang mendasari imannya kepada Yesus Kristus, dengan tuntunan Roh Kudus.

Penulis adalah aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jakarta Rapco lulusan Teologi dari Sekolah Filsafat Theologi Jakarta.