Demi Kemanunggalan, TNI dan Warga Tak Gentar Hadapi Ganasnya Buaya Muara di Kotim

MENANTANG MAUT - Warga saat turun ke sungai mengangkat kayu bahan material untuk pembuatan jembatan.

Oleh: IBRAHIM (Beritasampit.co.id)

SELAMA puluhan tahun warga Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, hidup berdampingan dengan puluhan bahkan ratusan buaya muara. Kecamatan ini memang sangat dekat dengan muara tempat para buaya itu hidup.

Beberapa warga pun ada yang pernah menjadi korban serangan buaya, yang memang lebih banyak berpopulasi di Pulau Lepeh, yang berada tepat di tengah-tengah Sungai Mentaya dan bertetangga langsung dengan Pulau Hanaut.

Tapi sekarang berbeda, ketakutan akan hewan jenis reptil itu seakan sirna begitu saja kala warga setempat berjibaku bahu-membahu bersama prajurit loreng hijau membangun jembatan dambaan warga selama ini melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)
ke-109 Kodim 1015 Sampit.

Cerita tentang buaya kini hanya menjadi bunga tidur, setelah warga Desa Bapinang Hilir dan Desa Babirah yang berada di Kecamatan Pulau Hanaut melihat secara langsung manfaat program TMMD untuk mewujudkan mimpi mereka yakni adanya perbaikan infrastruktur jembatan yang sudah rusak parah parah.

Lewat program TMMD tahun 2020, prajurit Kodim 1015 Sampit merenovasi 3 jembatan, masing-masing, jembatan Handil Gayam dengan ukuran panjang 15,30 meter lebar 3,80 meter, jembatan Handil Samsu dengan panjang 42 meter dan lebar 3,80 meter, dan juga jembatan Sei Babirah dengan ukuran panjang 42 meter dan lebar 3,80 meter.

Ketiga jembatan ini sebelumnya sangatlah membahayakan, karena kondisnya sangat memprihatinkan. Setelah masuk program TNI angkatan darat kini jembatan itu berdiri kokoh dan nyaman dilewati.

BACA JUGA:   Tim Jurnalis TMMD Rekap Publikasi Media

Sebelumnya akibat kerusakan yang parah itu, akses anak-anak menuju sekolah, serta warga yang dominan adalah petani harus tersendat.

Kondisi jembatan itu sudah berpuluh tahun dirasakan warga desa setempat. Warga harus berhati-hati melewati jembatan ini karena mengancam keselamatan warga sendiri.

Sementara tidak ada pilihan lain, karena hanya jalur itu yang bisa dipakai sebagai jalur transportasi setiap harinya. Selama ini pemerintah desa tak mampu untuk melakukan perbaikan menyeluruh, karena keterbatasan anggaran.

Menunggu adanya sentuhan anggaran daerah untuk perbaikan jembatan yang sudah berusia 30 tahun itu tak kunjung muncul. Sejak masuknya program TMMD di Kecamatan Pulau Hanaut pada 22 September 2020 lalu, menjadi jawaban mewujudkan cita-cita warga setempat.

Tiga jembatan dari beberapa jembatan yang ada di kecamatan tersebut diperbaiki dengan sistem gotong royong antara TNI dan Warga. Pengerjaan pembangunan memang digenjot cukup cepat karena hanya memiliki waktu selama satu bulan untuk menyelesaikan semuanya.

Kendati hambatan dalam pekerjaan tetap ada, saat pergeseran logistik atau bahan bangunan berupa kayu dan papan. Karena jika air surut, terpaksa prajurit TNI dan warga mau tidak mau menceburkan diri ke sungai untuk memindahkan bahan ke daratan secara estafet.

Karena armada kelotok yang digunakan untuk mengangkut bahan tidak bisa melintasi anak sungai hingga ke lokasi, baik TNI maupun warga harus bertaruh dengan nyawa masuk ke anak sungai yang menjadi jalur pengantaran.

BACA JUGA:   Hari Ini, Sugianto Sabran - Edy Pratowo Deklarasi di Tugu Soekarno

Kecamatan Pulau Hanaut yang memiliki 14 desa dengan luas 630 km² serta penduduk sebanyak 17.324 jiwa ini di bagian utara berbatasan dengan kecamatan Seranau, bagian barat berbatasan dengan kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Kecamatan Teluk Sampit sementara bagian selatan berbatasan dengan laut Jawa dan bagian timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Katingan.

Lokasi program TMMD 109 Kodim 1015 Sampit memang terkenal dengan habitat buaya. Pengerjaan jembatan yang kadang membuat personel TNI berendam di anak Sungai Mentaya menimbulkan kekhawatiran, jika satwa dilindungi itu merasa terganggu dan menyerang.

Ancaman tersebut tidak menyurutkan semangat gotong royong TNI dan warga untuk mewujudkan harapan mereka memiliki jembatan yang kuat, aman serta nyaman.

Rusaknya beberapa jembatan di kecamatan yang terkenal dengan rimbunan pohon kelapa ini juga disinyalir menjadi salah satu penyebab lambatnya peningkatan perekonomian masyarakat, pendistribusian kebutuhan pokok, seperti petani yang mau membawa pulang hasil panennya kesulitan melintasinya.

Mereka penuh was-was dan hati-hati lantaran kondisi jembatan yang rusak parah. Semangat gotong royong TNI dan Warga tetap membara kala mereka harus bertaruh nyawa terjun ke sungai tanpa tahu apa isi anak sungai itu.

Dan semangat prajurit TNI dengan doktrin dibunuh atau membunuh ini pun kecipratan kepada warga yang juga terlibat dalam Satgas TMMD Reguler Ke 109 Kodim 1015 Sampit. (*)