Suyuti Syamsul: Angka Stunting di Kalteng Turun

Hardi/BERITA SAMPIT - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Suyuti Syamsul

PALANGKA RAYA – Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKEDAS) pada tahun 2013, prevalensi angka stunting di Kalteng mencapai angka 41,04 persen. Berkat upaya dan kerja keras Pemprov Kalteng dan Pemkab-Pemko se-Kalteng, angka ini terus mengalami penurunan, sehingga berdasarkan RISKESDAS 2018, prevalensi stunting sudah berada di angka 34.04 persen.

“Pada tahun 2019, kembali dilakukan pengukuran ulang melalui Studi Kasus Gizi Balita Indonesia (SKGBI), dan didapatkan hasil prevalensi stunting di Kalteng berada di angka 32 persen. Terjadi penurunan angka prevalensi stunting di Kalteng sebesar 9,04 persen dari tahun 2013 sampai 2019. Prevalensi stunting pada kabupaten dan kota di Kalteng pada setiap pengukuran yang dilakukan, menunjukkan hasil yang bervariasi. Sebagian kabupaten dan kota telah melewati angka ideal dibawah 20 persen sesuai rekomendasi WHO, namun sebagian lagi masih sangat tinggi dan berada di atas rata-rata Kalteng bahkan nasional,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Suyuti Syamsul.

Suyuti menjelaskan berdasarkan RISKESDAS 2013, prevalensi stunting terendah ada di Kabupaten Lamandau 25,3 persen, Seruyan 30,4 persen dan Kotawaringin Timur 36,9 persen.

BACA JUGA:   Kapolda Kalteng Resmikan Rumah Dinas Satbrimob Kalteng di Mako Tangkiling

Sementara Kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Barito Timur 54,9 persen, Katingan 47,6 persen, Barito Selatan 46,3 persen. Pada saat RISKESDAS 2018, Kabupaten dengan prevalensi stunting terendah adalah Seruyan 21,84 persen, Kotawaringin Barat 22,07 persen dan Kota Palangkaraya 22,9 persen.

Sementara kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Kotawaringin Timur 48,84 persen, Barito Timur 42,5 persen dan Kapuas 41,53 persen.

Menurut SKGBI 2019, kabupaten dengan prevalensi stunting terendah adalah Murung Raya 17,45 persen, Lamandau 17,83 persen dan Kotawaringin Barat 23,98 persen. Sedangkan Kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Kapuas 42,37 persen, Kotawaringin Timur 39,87 persen dan Barito Timur 38,53 persen.

Pada tahun 2018, Pemerintah Pusat menetapkan tiga kabupaten sebagai lokus stunting yakni Kotawaringin Timur, Barito Timur dan Kapuas, dan tahun 2019 bertambah menjadi lima kabupaten dengan masuknya dua kabupaten lokus baru yakni Barito Selatan dan Gunung Mas. Lokus stuning ditetapkan berdasarkan tingginya prevalensi stunting pada satu daerah.

BACA JUGA:   Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Seruyan Hilir Sambangi Lahan Pertanian Warga

Pemerintah mendorong aksi konvergensi untuk mempercepat pencegahan stunting, melalu intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu dan bersama-sama terhadap kelompok prioritas. Untuk mendorong percepatan penurunan angka stunting, setiap tahun Ditjen Otda mengadakan lomba aksi konvergensi, yang diikuti oleh seluruh kabupaten di Indonesia yang menjadi lokus stunting.

Pemprov Kalteng setiap tahun melakukan penilaian aksi konvergensi stunting pada kabuapten lokus, agar bisa diikutkan pada tingkat nasional.

Pada tahun 2019, dilakukan penilaian terhadapa aksi 5 sampai 8 pada tiga kabupaten lokus stunting, yakni kabupaten Kotawaringin Timur, Barito Timur dan Kapuas dengan hasil, juara I Kabupaten Kotawaringin Timur dan juara II bersama Barito Selatan dan Kapuas.

Pada tahun 2020, kembali dilakukan penilaian pada aksi 1- 4 yang diikuti oleh lima kabupaten lokus stunting yakni Kotawaringin Timur, Gunung Mas, Barto Timur, Kapuas dan Barito Selatan. Keluar sebagai juara I bersama Kotawaringin Timur dan Gunung Mas, juara II Bartim dan juara III bersama Kapuas dan Barito Selatan.

(Hardi/Beritasampit.co.id)