Peran Pers Ditengah Pandemi Covid-19 dan Evaluasi Pelaksanaan HPN 2021

IST/BERITA SAMPIT - Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh.

JAKARTA – Hari Pers Nasional (HPN) 2021, yang akan dilaksanakan 29 Februari mendatang, terdapat beberapa agenda prioritas, diantaranya penghargaan jurnalistik tertinggi Wartawan Indonesia, Adinegoro. Sedangkan pada acara puncak juga diadakan Konvensi Media Masa, yakni membahas masalah media.

Hal ini disampaikan Penanggung Jawab HPN 2021, Atal S Depari, dalam dialog “Indonesia Bicara” yang tayang di stasiun TVRI, Rabu 20 Januari 2021 malam. Acara ini juga menghadirkan secara virtual, Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh.

“Kehidupan media dimasa pandemi ada dua serangan sekaligus. Krisis ekonomi dan media sosial. Untuk itu kita akan adakan Konvensi Media Masa. Selain itu juga ada seminar-seminar dan sudah berlangsung sampai hari H-nya nanti tanggal 9 Februari, serta pemberian penghargaan kebudayaan,” katanya Atal.

Lebih lanjut, Atal menyebutkan, bahwa untuk penghargaan kebudayaan akan diberikan untuk Pemerintah Kabupaten/Kota. Bagaimana daerah menerapkan kebudayaan. “Indonesia power adalah budaya. Pak Jokowi pernah bilang bahwa DNA kita adalah kebudayaan. Itu kita coba lihat, bagaimana prakteknya kebudayaan ini dalam membangun bangsa kita. Ini sudah tiga kali kita adakan dan respon daerah luar biasa,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Waka MPR: Selamat Hari Pers Nasional Kepada Seluruh Wartawan di Indonesia

Sementara itu, terkait pelaksanaan HPN tahun ini, Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh, mengatakan, ada beberapa hal dalam peringatan HPN 2021. Pers harus fleksibel untuk melakukan perubahan, karena memang harus berubah, zamannya berubah, tidak bisa seperti biasanya.

Pers atau media sekarang sedang mengalami proses migrasi ke cyberspace. Dalam migrasi ini tidak semuanya media siap. “Esensi dari peringatannya itu yang harus tetap digelorakan, meskipun kendaraannya bisa berbeda-beda. Pers harus fleksibel menghadapi segala situasi. Sekarang menggunakan cyberspace. Oleh karena itu, kawan-kawan semua ditantang untuk melakukan perubahan-perubahan itu. Yang penting esensi dari pers, khususnya partisipasi di dalam ikut serta menangani pandemi ini tidak boleh ditinggalkan. Itu yang harus kita gelorakan, khususnya di HPN 2021,” jelas Muhammad Nuh.

Menurutnya, sejak 2019 lalu telah dibahas bagaimana mempersiapkan transformasi digital di dunia media. Bahkan tidak sedikit media yang harus gulung tikar, karena tidak mampu melakukan transformasi digital. “Sama-sama kita ketahui, semua orang seringkali membicarakan sekarang ini eranya digital. Tetapi sering kali kita belum mendapatkan bonus digitalnya. Karena belum memahami subtansi dari digital itu,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Mahfud MD: Perlu Dilakukan Inovasi Dalam Upaya Pencegahan Karhutla

Muhammad Nuh menyebutkan, media harus menempatkan digital tekhnologi sebagai sporter atau sport untuk semua kegiatan dan menjadikan driver atau penggerak serta dijadikan hal yang mungkin. Apa yang kita lakukan sekarang ini adalah bagian dari pembuktian bahwa tekhnologi digital sebagai liberal, tetapi belum sesuatu yang dahsyat. Sebab transformasi digital tidak hanya sebagai alat digital itu, tetapi ada culture didalamnya.

“Ada agenda yang sangat luar biasa besarnya yang harus dibahas di HPN nanti. Karena akan kita memastikan yang namanya transformasi digital, dunia penyelenggara, pengelola, industri pers itu bisa berlangsung dengan baik,” terangnya.

Disaat pandemi Covid-19 ini, tambah Muhammad Nuh, salah satu agenda pada HPN adalah mendorong dan ini sudah dilakukan, yaitu peran jurnalis untuk melakukan perubahan prilaku. “Alhamdulillah itu sudah berlangsung dan mudah-mudahan ini bisa dikembangkan lagi sampai benar-benar ada perubahan prilaku. Media mempunyai peran yang luar biasa disini,” pungkasnya. (Jun/beritasampit.co.id).