Lebih Dekat dengan Ibu Birute Mary Galdikas, 50 Tahun Melindungi Hutan dan Orangutan

Ilustrasi Maman Wiharja.

Bagian 4

Oleh : Maman Wiharja (Wartawan –Beritasampit.co.id).

Film documenter Prof Dr Birute Mary Galdikas, yang lainnya paling terkenal waktu itu berjudul “Kusasi From Orphan To King “, yang menceritakan anak kera tangan panjang (orangutan) dari yatim piatu dan setelah dirawat Ibu Birute dari kecil, akhirnya menjadi raja Orangutan di Kalimantan (Tanjung Puting), yang diberinama ‘Kusasi’.

Di Film documenter tersebut, sebagai naratornya adalah Mel Gibson. Adapula film 3 dimensi : Imax ‘BORN to be WILD 3D’, yang sebagai naratornya Morgan Freeman. Film documenter tersebut pada tanggal 26 Februari 2012 saat pemutarannya yang pertama, di Theater Keong Mas-Ancol Jakarta langsung ditonton oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ibu Presiden, didampingi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, serta para Manteri Kabinet dan undangan lainnya. Birute, menonton didampingi salah seorang putranya bernama Frederick.

Menurut catatan khusus pribadinya, Birute sebelum tahun dua ribuan, berhasil meraih puluhan penghargaan Internasional maupun Nasional, antara lain:
1. Penghargaan Medali Peringatan Ratu Elizabeth II (Canada).
2. Penghargaan Konservasi Chevron.
3. Penghargaan Kebanggaan Lithuania.
4. Medali Emas Untuk Konservasi dari Chester Zoological Society (Inggris).
5. Penghargaan Explorer dan Kepemimpinan dari Royal Geographic Society (Spanyol).
6. Penghargaan Medali Jubilee Ratu Elizabeth II.
7. Penghargaan Tyler Prize.
8. Penghargaan Orde Kanada.
9. Penghargaan United Nations Global 500.
10. Penghargaan Sierra Club Chico Mendes.
11. Penghargaan Pahlawan Bagi Bumi (Eddie Bauer).
12. Penghargaan Pahlawan Bumi Indonesia (KALPATARU).
13. Penghargaan Medali Satya Lencana Indonesia.
14. Penghargaan Kemanusiaan PETA.

BACA JUGA:   Pelanggar Prokes Covid-19 di Pangkalan Bun Menurun

Perhatiannya terhadap pelestarian orangutan memang luar biasa buktinya waktu itu setelah mendirikan ‘Camp Leakey di hutan Taman Nasional Tanjung Puting, kemudian membangun lagi sebuah ‘Klinik’ (Rumah sakit Orangutan), yang diberi nama ‘Orangutan Carre Centernd Quarantine (OCCQ), tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya di Desa Pasir Panjang.

Di Klinik itulah semua orangutan sebelum dilepas liarkan ke habitatnya di hutan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), dikarantina untuk dirawat dan diperiksa kesehatannya oleh tim dokter hewan. Kemudian dibina dan dilatih cara mengenal lingkungan agar nanti saat dilepas liarkan orangutan bisa langsung beradaptasi dihabitatnya.

BACA JUGA:   Ini 4 Titik Penyekatan Mudik 2021 di Kobar

Perlu diketahui, bahwa ratusan orangutan yang ada dihabitatnya di TNTP adalah orangutan yang didapat dari peliharaan manusia, dan bagi manusia yang sadar tentang hutan dan satwa, ada pula yang mengirimkan orangutan ke Klinik OCCQ di Pasir Panjang.

Beliau juga pernah menyelamatkan 4 orangutan dari Bangkok Thailand, hasil perdagangan illegal dari Indonesia, yang orangutannya dikomersilkan jadi tukang tinju diarena panggung pertandingan (Kick Boxer), yang ditayangkan pada jaringan telivisi Bangkok. Berkat perhatian OFI yang dipimpinnya, maka dengan bantuan Menteri Kehutanan RI dan KBRI di Bangkok, pada tanggal 16 Desember 2007 ke 4 orangutan berhasil dipulangkan ke Indonesia. (*)