Bersiap Hadapi Lonjakan Gelombang Kedua Covid-19 (bagian 1)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers setibanya vaksin COVID-19 AstraZeneca,di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin 26 April 2021.//Ist-ANTARA/Kemenkominfo/aa. (Handout Kemenkominfo)

Prediksi epidemiolog tentang melonjaknya kasus COVID-19 pascalibur Lebaran 2021 sudah benar-benar terjadi dan prediksi campur tangan varian baru virus corona dalam percepatan penyebarannya juga menjadi kenyataan.

Jumlah kasus harian Covid-19 pada bulan Ramadhan 1442 Hijriah masih pada kisaran 5.000 sampai 6.000 kasus, namun seminggu terakhir ini lonjakannya mulai terlihat di atas 8.000 kasus dengan rata-rata kenaikan harian dari tanggal 10 sampai 16 Juni sebesar 8.631 kasus.

Pada 16 Juni 2021 Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan telah terjadi penambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 9.944 orang atau mendekati 10.000 kasus.

Jika dibanding rata-rata sepekan sebelum Lebaran yang hanya 5.000 kasus, maka kenaikan kasus harian sudah mencapai 72 persen, sesuai dengan prediksi sebelumnya yaitu ada kenaikan antara 50-70 persen jumlah kasus harian sebulan setelah Lebaran.

Angka akumulasi kasus saat ini tercatat sebanyak 1.937.652 kasus Covid-19 sejak kasus pertama terkonfirmasi pada Maret 2020. Di mana saat ini terdapat 120.306 kasus aktif atau pasien yang tengah menjalani perawatan dan isolasi setelah terkonfirmasi positif Covid-19. Angka itu menunjukkan telah terjadi penambahan 3.519 kasus aktif dibandingkan Selasa 15 Juni 2021 atau lonjakan yang luar biasa.

Saat ini tingkat positif atau positivity rate nasional harian untuk spesimen adalah 31,65 persen, padahal sebulan sebelumnya pada 16 Mei angkanya masih kecil, yakni 11,14 persen. Makin tinggi angka ini menunjukkan sebaran virus yang makin meluas dengan cepat. Makin kecil angka ini artinya virus makin bisa dikendalikan penyebarannya. Standar WHO untuk angka ini adalah lima persen yang menandakan penyebarannya masih bisa dikendalikan.

BACA JUGA:   Kemenkes: Dugaan Kebocoran Data Pengguna Terjadi Pada Aplikasi eHAC Lama

Saat Ramadhan, angka kasus harian di Sumatera tergolong naik dengan cepat sehingga Pemerintah berupaya mencegah pemudik yang kembali ke Jawa membawa serta virus corona dengan melakukan penyekatan dan testing bagi pemudik di Bakaheuni dan Gilimanuk untuk menjaga jangan sampai Pulau Jawa ikut bergerak cepat penyebaran virusnya.

Upaya telah dilakukan maksimal, namun faktanya Pulau Jawa akhirnya mengalami percepatan penyebaran dan terbukti penambahan kasus terbesar pada 16 Juni 2021 seluruhnya berada di Pulau Jawa yaitu provinsi Jawa Barat dengan 2.599 kasus baru, DKI Jakarta 2.376 kasus baru, Jawa Tengah 1.251 kasus baru, Jawa Timur 702 kasus baru dan D.I. Yogyakarta dengan 534 kasus baru.

Kecepatan penyebaran virus kemungkinan bisa menembus puncak pertama kasus harian Covid-19 di Indonesia yang terjadi pada 30 Januari 2020 dengan titik puncak pada angka 14.518 kasus.

Kasus di India yang bisa menimbulkan gelombang kedua juga terjadi dalam waktu singkat sekitar 2,5 bulan dari titik terendah dan bukan tidak mungkin fenomena serupa terjadi di Indonesia berapa bulan mendatang.

BACA JUGA:   BNPB Meminta Pemerintah Daerah Waspadai Wilayah Dengan Pengulangan Bencana

India mendapat puncak puncak kedua tercapai pada 6 Mei 2021 dengan kasus harian 414.6188 kasus atau delapan bulan kemudian setelah puncak pertama.
India sempat menurunkan kasus hariannya di bawah 3.000 kasus, bahkan pada 6 Februari 2021 tercatat hanya ada penambahan 12.000 kasus, namun kemudian meroket sampai mencapai puncak kedua pada 6 Mei 2021, artinya hanya dalam tiga bulan bisa melonjak 345 kali lipat.

Fenomena di India ini menjadi refleksi bagi Indonesia bahwa tanpa pengetatan mobilitas masyarakat dan protokol kesehatan maka bisa saja lonjakan serupa juga terjadi di Indonesia. Titik terendah harian di Indonesia terjadi pada 13 Mei 2021, namun kemungkinan bukan angka sebenarnya karena bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri dimana angka pengujian spesimen mengalami penurunan.

Belum bisa diketahui seberapa besar prosentase varian virus baru itu mendominasi, namun tanpa pengendalian ketat maka dalam beberapa bulan varian baru akan menjadi makin dominan dan gelombang kedua sebaran virus corona akan terjadi juga di Indonesia.

Seperti fenomena di Inggris yang sebelumnya didominasi oleh varian Alfa, namun setelah masuknya varian Delta dari India yang lebih cepat menyebar, saat ini 90 persen penularan baru berasal dari varian Delta. Kecepatan varian ini di Inggris bisa meningkat 70 persen kasusnya hanya dalam waktu dua pekan. (bersambung).

(Sumber : Antara)